<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Oka Negara &#187; world aids day</title>
	<atom:link href="http://www.okanegara.com/tag/world-aids-day/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.okanegara.com</link>
	<description>sexuality.reproductive health.youth.life.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 May 2010 07:41:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Hari AIDS Lagi. Lagi-lagi Masih Banyak Yang Perlu Dikerjakan.</title>
		<link>http://www.okanegara.com/youth-world/hari-aids-lagi-lagi-lagi-masih-banyak-yang-perlu-dikerjakan.html</link>
		<comments>http://www.okanegara.com/youth-world/hari-aids-lagi-lagi-lagi-masih-banyak-yang-perlu-dikerjakan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 07:42:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[AIDS Corner]]></category>
		<category><![CDATA[Wonderful Life]]></category>
		<category><![CDATA[Youth World]]></category>
		<category><![CDATA[aids]]></category>
		<category><![CDATA[world aids day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[Sejak pagi tadi terlihat banyak siswa sekolah, aktivis LSM dan mereka yang mencoba peduli dengan permasalahan HIV AIDS turun ke jalan. Hari ini 1 Desember adalah saat orang-orang di berbagai belahan dunia ikut merayakan World AIDS Day atau Hari AIDS Sedunia. Bagi yang sudah pernah mengikuti atau mengetahuinya, tentu saja sudah sangat lekat dengan maraknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-430" title="has" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/12/has-300x192.jpg" alt="has" width="300" height="192" />Sejak pagi tadi terlihat banyak siswa sekolah, aktivis LSM dan mereka yang mencoba peduli dengan permasalahan HIV AIDS turun ke jalan. Hari ini 1 Desember adalah saat orang-orang di berbagai belahan dunia ikut merayakan <a href="http://www.worldaidsday.org"><em>World AIDS Day</em></a> atau Hari AIDS Sedunia. Bagi yang sudah pernah mengikuti atau mengetahuinya, tentu saja sudah sangat lekat dengan maraknya pita merah, lambang kepedulian terhadap HIV AIDS yang sering kali menjadi ikon perayaan Hari AIDS Sedunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dunia terdapat sekitar 40 juta orang hidup dengan HIV dalam darahnya, dan diperkirakan setiap harinya 14.000 orang terinfeksi HIV. Itu artinya dalam setiap enam detik terdapat penambahan satu kasus baru. Pengidap HIV AIDS di Indonesia hingga akhir September lalu mencapai 18.442 orang tersebar di 32 propinsi dan 300 kabupaten/kota dengan rasio 3:1 antara laki-laki dan perempuan (berdasarkan data yang dikeluarkan Dirjen P2PL Departemen Kesehatan RI).  Kalau ditelusuri rata-ratanya adalah 8,15 per 100.000 penduduk jika memakai jumlah penyebut dari jumlah penduduk berdasarkan data BPS 2006. Secara kumulatif sejak ditemukan pertama kali kasus AIDS di Bali pada tahun 1987, cara penularannya melalui aktivitas seksual heteroseksual sebanyak 49,7%, IDU (<em>Injecting Drug User</em>) atau pengguna narkotika suntikan sebanyak 40,7%, lalu penularan lewat kasus laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki sebanyak 3,4% berdasarkan perilaku berisiko.  Dari usia, yang terinfeksi pada kelompok usia 20-29 sebanyak 49,57%, disusul kelompok umur 30-39 tahun sebanyak 29,84% dan kelompok 40-49 tahun sebanyak 8,71%. Terlihat jelas usia muda dan produktif adalah kelompok utama yang tertular HIV saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya sudah banyak kemajuan terjadi. Jauh dari yang dipikirkan dan diduga sebelumnya. Bali sebagai salah satu contoh propinsi yang cukup aktif melakukan kegiatan penanggulangan secara bersinergi, saat ini bisa mulai perlahan mengurangi laju pertambahan kasus baru HIV bila dibandingkan dengan angka nasional. Dari yang di awal-awal kemunculannya selalu menempatkan Bali di tiga besar jumlah kumulatif kasus  HIV AIDS terbanyak di Indonesia, saat ini Bali sudah berada di tempat kelima. Urutan sepuluh besar jumlah kasusnya berdasarkan propinsi di Indonesia saat ini adalah Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Papua, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sumatra Utara, Riau, dan Kepulauan Riau.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Bali, penularan HIV di lembaga pemasyarakatan, yang sebelumnya sempat mengkhawatirkan karena maraknya penggunaan narkoba suntikan bersama-sama, saat ini juga sudah makin terkendali. Peningkatan kasus-kasus baru dari kalangan pengguna narkoba suntikan semakin menurun drastis. Bisa jadi ini bukti bahwa penanggulangan berbasis komunitas dan kelompok khusus melalui pendampingan sebaya lewat program <em>Harm Reduction</em> cukup berhasil. <em>Harm reduction</em> adalah upaya-upaya yang ditujukan khusus buat kalangan berperilaku berisiko untuk mengurangi dampak buruk yaitu mencegah tertular dari HIV, misalnya dengan pembagian jarum suntik steril kepada pengguna narkoba suntikan.  Atau program rumatan <em>methadone</em> dengan pemberian oral (diminum), untuk menggantikan heroin yang disuntikkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya, masalah masih tetap ada. Keberhasilan program <em>Harm Reduction</em> masih belum diikuti oleh keberhasilan dalam menekan kasus penularan HIV dari hubungan seksual yang tidak aman. Estimasi yang dibuat berdasarkan kalkulasi epidemiologis di Bali bisa banyak berbicara dalam memetakan kecenderungan terkini penularannya. Peningkatan estimasi pengidap HIV dan AIDS yang di awal tahun 2000an masih disebut dalam bilangan 3000 kasus (dengan rincian 1900 dari kasus-kasus seksual dan 1100 dari kasus-kasus narkoba suntik)  menjadi 4000 kasus di tahun 2004 (dengan rincian 2700 dari hubungan seksual tidak aman dan 1300 dari kasus-kasus narkoba suntik). Terlihat estimasi peningkatan yang cukup berarti pada kasus-kasus baru infeksi HIV lewat cara-cara hubungan seksual yang tidak aman. Sedangkan peningkatan kasus dari penggunaan narkoba suntikan tidaklah terlalu cepat. Peningkatan kasus-kasus baru dari hubungan seksual sangat dimungkinkan mengingat pencegahan dan penanggulangan dari cara penularan yang satu ini tidaklah mudah, karena hubungan seksual memang cukup susah untuk dikontrol dan dikendalikan mengingat sifatnya yang sangat personal dan memerlukan kesadaran pribadi yang kuat dan pemahaman yang konsisten tentang risiko hubungan seksual yang tidak aman.</p>
<p style="text-align: justify;">Akses masyarakat yang membutuhkan alat kontrasepsi juga masih sangat terbatas. Beberapa macam model kampanye telah dilakukan oleh berbagai lembaga, baik LSM maupun juga pihak swasta untuk mensosialisasikan penggunaan kondom, misalnya. Tetapi angka penggunaan kondom masih rendah, yaitu hanya sekitar 20-30%. Tentu saja ini masih sangat jauh dari yang ingin dicapai dalam Komitmen Sanur. Keberadaan femidom atau kondom perempuan juga masih terbatas dan belum banyak yang mengetahui. Padahal fungsi kondom tidak lagi hanya sebatas alat kontrasepsi, tetapi justru sebagai proteksi dan pencegahan terhadap infeksi menular seksual, termasuk pencegahan HIV di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kasus-kasus infeksi HIV AIDS juga bisa tampil dalam bentuk baju yang lain dengan fenomena sosial yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Kondisi lembaga pemasyarakatan  yang sesak, berjejal dengan banyaknya narapidana membuat mereka yang mengidap HIV menjadi tidak leluasa untuk bisa sekedar menjaga kesehatan. Kejadian Tuberkulosis akhirnya menjadi sering muncul sebelum yang bersangkutan masuk fase AIDS. Dan kemunculan Tuberkulosis ini justru akhirnya bisa memperburuk daya tahan tubuh pengidap HIV.  Tuberkulosis adalah infeksi oportunistik terbanyak dari puluhan infeksi oportunistik yang menyebabkan pengidap AIDS meninggal.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya permasalahan lainnya: resistensi HIV terhadap obat ARV. Obat yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup pengidap HIV dengan menekan laju replikasi HIV dalam tubuh. Agar terapi ARV berjalan optimal,  pengidap HIV harusnya patuh minum obat, selama seumur hidup. Jika tidak disiplin dalam menepati waktu minum atau lupa minum satu hari, maka ARV tidak akan berfungsi optimal dalam menekan virus. Malah, HIV di dalam tubuh menjadi kebal terhadap ARV. Resistensi juga bisa terjadi jika seseorang terinfeksi virus yang sudah resisten. Repotnya, hingga saat ini Indonesia belum memiliki fasilitas memadai untuk melakukan tes resistensi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, banyak anak-anak tidak berdosa yang juga terdampak HIV. Sebagian dari mereka sudah terinfeksi HIV sejak lahir. Sampai dengan tahun  2008 lalu, misalnya terdapat 23 anak-anak yang menjadi yatim piatu karena orang tua meninggal lebih dulu di daerah Gerokgak, Buleleng. Jadi problema HIV AIDS tidak semata-mata menyasar kalangan yang berisiko tinggi seperti mereka yang gonta-ganti pasangan seksual tanpa menggunakan kondom, atau mereka yang menggunakan narkoba suntikan bersama-sama, tetapi justru sudah memasuki wilayah rumah tangga. Anak-anak dan ibunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika hal-hal seperti ini masih juga belum bisa menyadarkan masyarakat untuk ikut peduli dan mau memahami HIV AIDS dengan lebih baik, jangan salah jika apa yang akan dialami Bali, kira-kira akan bisa terjadi sesuai dengan skenario berikut (dengan perhitungan masih dengan estimasi 3000 kasus): sekitar 50% dari mereka yang saat ini mengidap HIV dalam kurun waktu 5 tahun akan memasuki fase AIDS. Kemungkinan sekali separuh dari pengidap AIDS itu yaitu sekitar 750 orang akan membutuhkan perawatan. Tempat tidur yang dimiliki oleh RSUP Sanglah yang merupakan pusat pelayanan kesehatan rujukan saja hanya ada sekitar 800an. Bisa jadi sebagian besarnya akan dihuni oleh pengidap AIDS. Belum lagi disusul gelombang penderita baru yang semakin banyak. Kebutuhan akan dokter, perawat, obat, alat dan sebagainya akan juga meningkat. Bahwa di Bali akan berlangsung “ngaben” masal bisa saja mendekati kenyataan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan menakuti. Tapi itu semua bisa saja benar-benar terjadi. Semua bisa terjadi ketika upaya edukasi masyarakat secara menyeluruh belum juga tuntas sampai ke seluruh lapisan masyarakat. Ini mengakibatkan stigma dan diskriminasi masih terjadi. Upaya mengikis stigma sering kali juga belum bisa dibahasakan dengan baik dan seragam oleh berbagai kalangan. Malah hal seperti ini masih terjadi di tingkat pemahaman internasional sekalipun. Sebuah kampanye agresif dan intimidatif juga bisa terjadi di negara-negara maju seperti yang terjadi dalam kampanye controversial <a href="http://okanegara.com/sexuality-blitz/367.html"><em>“AIDS is Mass Murderer”</em></a> yang malah semakin memunculkan stigma AIDS yang menyeramkan. Padahal kenyataannya tidaklah lagi menakutkan.  Harusnya HIV AIDS bisa tampil lebih <em>soft</em> tanpa muatan stigma. Layaknya bagaimana keberadaan Hepatitis C, Hepatitis B yang jauh dari stigma. Bahkan sejak ampuhnya ARV dalam menekan laju HIV dalam tubuh (walaupun belum bisa disembuhkan), sesungguhnya infeksi HIV sudah bisa disejajarkan dengan berbagai penyakit kronis lainnya seperti diabetes, penyakit jantung maupun hipertensi, yang mana pengidap penyakit-penyakit kronis ini juga bisa berakibat fatal bila yang bersangkutan tidak memelihara kesehatan, berpola hidup sembarang dan tidak teratur mengkonsumsi obat.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbagai kampanye, bentuk-bentuk dukungan sebaya dan edukasi tetaplah harus bisa terus digiatkan, tentu saja dengan metode-metode yang masif progresif yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat lewat cara-cara yang efektif. Tidak hanya asal dan sekedar seremonial. Sangat disayangkan kalau upaya edukasi dan diseminasi informasi ke masyarakat ditunggangi dengan kegiatan-kegiatan kampanye personal demi popularitas atau mengejar jabatan dan kedudukan semata. Kenyataannya ini masih saja terjadi. Keberadaan organisasi-organisasi dengan segmen khusus harusnya juga bisa selalu didukung. Sebagi contoh, kehadiran kelompok siswa peduli AIDS di sekolah, misalnya, harusnya bisa ikut membangkitkan motivasi dan peluang yang lebih baik untuk selalu memberikan dukungan dan edukasi di tingkat lembaga pendidikan. Tentu saja rentetan berikutnya, pihak sekolah dan para guru dituntut untuk bisa selalu melengkapi diri dengan pengetahuan yang lebih baik dan <em>up to date</em> serta kemampuan yang baik dalam mentransfer informasi HIV AIDS yang benar buat siswanya. Karena sesungguhnya ini memiliki nilai strategis untuk memberikan akses informasi, rujukan pelayanan dan pemberdayaan anak dan remaja yang merupakan siswa di sekolah. Ini juga kesempatan yang strategis untuk mulai memberikan pemahaman yang benar tentang hak asasi dan hak-hak remaja, hingga bagaimana memberdayakan remaja dalam mengakses informasi dan pelayanan secara luas.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga perayaan Hari AIDS Sedunia kali ini tidak lagi menjadi seremonial belaka. Masih banyak hal yang menjadi pekerjaan rumah buat semuanya. Bukan hanya buat dokter, aktivis LSM, atau pemerintah saja sesungguhnya. Tapi semuanya. Termasuk masyarakat. Justru masyarakat yang harus lebih banyak berperan kondusif. Sudah saatnya memposisikan permasalahan HIV AIDS sebagai permasalahan bersama. Membiarkan mitos masih bertumbuh subur dan menganggap sepele hingga antipati terhadap upaya-upaya kepedulian terhadap fenomena HIV AIDS adalah juga bentuk tindakan tidak bertanggung jawab. Mempekerjakan pekerja seks tanpa mempedulikan nilai-nilai perilaku seks yang aman, melakukan diskriminasi dalam pelayanan kesehatan terhadap pengidap HIV dan AIDS,  tidak membekali anak dengan pengetahuan yang cukup tentang seksualitasnya, tidak memberikan edukasi yang memadai di sekolah tentang kesehatan reproduksi dan seksual adalah beberapa contoh pembiaran dan ketidak pedulian yang akan berakibat fatal buat masa depan generasi muda. Yang berarti pula sebuah upaya yang sering kali tanpa disadari merupakan sebuah upaya penghancuran bangsa. Berlebihan? Saya kira tidak. Jika kita tidak berbuat sesuatu bersama, ini semua hanya menunggu waktu. Karenanya, mari tetap peduli. Sekecil apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat Hari AIDS Se-Dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Okanegara, kampus sudirman, 1 Desember 2009, 12.00 Wita.</em></p>
<h6 style="text-align: justify;">*gambar di atas dan beberapa foto-foto Hari AIDS Sedunia di Indonesia bisa dilihat di <a href="http://news.id.msn.com/photogallery.aspx?cp-documentid=3728091&amp;page=3">sini</a><em><br />
</em></h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.okanegara.com/youth-world/hari-aids-lagi-lagi-lagi-masih-banyak-yang-perlu-dikerjakan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hitler Ikut Kampanye AIDS?</title>
		<link>http://www.okanegara.com/sexuality-blitz/367.html</link>
		<comments>http://www.okanegara.com/sexuality-blitz/367.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 16:47:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[AIDS Corner]]></category>
		<category><![CDATA[Sexuality Blitz]]></category>
		<category><![CDATA[aids]]></category>
		<category><![CDATA[aids campaign]]></category>
		<category><![CDATA[hitler]]></category>
		<category><![CDATA[hiv]]></category>
		<category><![CDATA[saddam husein]]></category>
		<category><![CDATA[stalin]]></category>
		<category><![CDATA[stigma and discrimination]]></category>
		<category><![CDATA[world aids day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=367</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah kampanye dengan pencitraan iklan yang hiperbolis berupa klip video berdurasi 45 detik diluncurkan menampilkan sosok “Adolf Hitler” yang tampak berhubungan seksual. Terkesan tanpa menggunakan proteksi. Tetapi rupanya iklan yang akan ditayangkan di TV Jerman dan bisa dilihat di www.aids-is-a-mass-murderer.com ini akan menjadi kontroversial. Iklan ini memang terlihat menarik dan akan sangat mengundang minat untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-369" title="EN-A6-Hitler" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/09/EN-A6-Hitler1-213x300.jpg" alt="EN-A6-Hitler" width="213" height="300" />Sebuah kampanye dengan pencitraan iklan yang hiperbolis berupa klip video berdurasi 45 detik diluncurkan menampilkan sosok “Adolf Hitler” yang tampak berhubungan seksual. Terkesan tanpa menggunakan proteksi. Tetapi rupanya iklan yang akan ditayangkan di TV Jerman dan bisa dilihat di <a href="http://www.aids-is-a-mass-murderer.com/">www.aids-is-a-mass-murderer.com</a> ini akan menjadi kontroversial. Iklan ini memang terlihat menarik dan akan sangat mengundang minat untuk menyimaknya. Tetapi rupanya telah menjadi “sebuah pesan salah” yang bisa berakibat tujuan dari kampanye global penanggulangan HIV dan AIDS menjadi terdistorsi dan tidak tercapai.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjadi sebuah negara maju dengan masyarakat yang <em>well educated</em>, ternyata tidak menjamin bagi sebuah negara sekelas Jerman bisa menghasilkan kemasan iklan berkualitas dengan pesan yang tepat. Pesan layanan masyarakat berupa sebuah dan tiga buah poster yang ditujukan untuk kampanye Hari AIDS Sedunia 1 Desember yang akan datang memperlihatkan tampilan sosok Adolf Hitler, Saddam Hussein, dan Josef Stalin yang masing-masing berhubungan seksual dengan seorang perempuan yang penuh gairah.  Sepertinya persepsi yang ingin dibentuk adalah “tiga manusia pembunuh utama di muka bumi ini” analoginya sama dengan AIDS. Sama-sama pembunuh masa. Sepertinya memang ini maksud dalam kampanye bertitel <strong><em>“AIDS is a mass murderer”</em></strong> ini. Tetapi, cocokkah analogi ini? I don`t think so. Menyamakan AIDS dengan sosok-sosok “bersejarah” tersebut justru akan menimbulkan rasa tidak bersahabat dengan AIDS dan pengidap HIV (tentu saja pengidap HIV dengan AIDS itu sendiri belum dapat dipisahkan sampai saat ini). Iklan ini sangat berpotensi membuat stempel buruk. Stigma. Dan juga diskriminasi. Sebuah stempel yang justru selama ini ingin dikikis, sehingga pencegahan dan penanggulangan HIV bisa mendekati yang diharapkan bersama. Di sini rupanya bumerang itu. Sekali lagi, pencitraan yang dimunculkan justru bisa mengakibatkan bertambah kuatnya stigma.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-370" title="mass" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/09/mass-300x140.jpg" alt="mass" width="300" height="140" />Perlu diingat kembali bahwa HIV dan bahkan AIDS tidak lagi muncul dengan wajah sangar, menakutkan dan penyakitan. Tetapi kini sudah terbiasa tampil dengan wajah yang sangat normal. Ibu rumah tangga yang baik-baik saja,rajin beribadah, tidak pernah selingkuh dan tidak pernah terpikir untuk menggunakan narkoba. Dan tentu saja ingat dengan bayi-bayi yang belum berbuat salahpun bisa kena.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang benar bahwa kita harus kembali mengingat kasus AIDS yang terus bertambah. Sangat baik untuk kembali membangkitkan kesadaran orang banyak dengan pesan yang menyentak. Kembali menyadarkan masyarakat lagi untuk bisa belajar dan diskusi tentang HIV, pencegahannya, penggunaan kondom, menyampaikan bahwa AIDS itu masih selalu ada. Tetapi ingat, kita juga harus mengikis stigma dan diskriminasi.  Paling tidak itu menurut saya. What about you?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.okanegara.com/sexuality-blitz/367.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

