<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Oka Negara &#187; hiv</title>
	<atom:link href="http://www.okanegara.com/tag/hiv/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.okanegara.com</link>
	<description>sexuality.reproductive health.youth.life.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 May 2010 07:41:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Sekali Lagi Tentang Sirkumsisi Laki-laki: Antara Tradisi, Pencegahan HIV dan Hak Seksual</title>
		<link>http://www.okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/sekali-lagi-tentang-sirkumsisi-laki-laki-antara-tradisi-pencegahan-hiv-dan-hak-seksual.html</link>
		<comments>http://www.okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/sekali-lagi-tentang-sirkumsisi-laki-laki-antara-tradisi-pencegahan-hiv-dan-hak-seksual.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 04:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Original Article]]></category>
		<category><![CDATA[hiv]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan seksual]]></category>
		<category><![CDATA[khitan]]></category>
		<category><![CDATA[men`s health]]></category>
		<category><![CDATA[sirkumsisi]]></category>
		<category><![CDATA[who]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[Apakah tradisi sirkumsisi yang sejak lama dipraktekkan atas dasar kepercayaan sesungguhnya adalah memang untuk kesehatan dan ramalan akan upaya pencegahan dari penyakit tertentu? Atau sirkumsisi justru memangkas hak-hak seksual manusia dalam mengeksplorasi seksualitasnya? Belakangan ini ada hal yang menarik perhatian karena menjadi sebuah kontroversi lagi, menyangkut rekomendasi terbaru yang diusulkan oleh CDC (Center for Disease [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/03/circumcision-051.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-457" title="circumcision-05.jpg" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/03/circumcision-051.jpg" alt="" width="275" height="275" /></a>Apakah tradisi sirkumsisi yang sejak lama dipraktekkan atas dasar kepercayaan sesungguhnya adalah memang untuk kesehatan dan ramalan akan upaya pencegahan dari penyakit tertentu? Atau sirkumsisi justru memangkas hak-hak seksual manusia dalam mengeksplorasi seksualitasnya? Belakangan ini ada hal yang menarik perhatian karena menjadi sebuah kontroversi lagi, menyangkut rekomendasi terbaru yang diusulkan oleh CDC (<em>Center for Disease Control</em>) tentang sirkumsisi laki-laki.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sekilas Tentang Sirkumsisi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sirkumsisi, khitan atau sunat adalah tindakan memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh preputium (<em>prepuce</em>, <em>foreskin</em>, frenulum, kulup) yang menutupi glans penis (kepala penis). Kata sirkumsisi berasal dari <a title="Bahasa Latin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Latin">bahasa Latin</a> “<em>circum”</em> (memutar) dan “<em>caedere”</em> (memotong). Sirkumsisi memiliki riwayat sejarah yang sangat panjang sebagai salah satu tindakan bedah pertama yang dilakukan manusia. Ada tiga alasan utama orang menjalani sirkumsisi: (1) alasan kepercayaan, (2) indikasi medis dan (3) pencegahan penyakit.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sirkumsisi Dan Tradisi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sirkumsisi telah dilakukan sejak jaman prasejarah, dilihat dari gambar-gambar di gua yang berasal dari <a title="Zaman Batu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Zaman_Batu">Zaman Batu</a> dan makam <a title="Mesir purba" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mesir_purba">Mesir purba</a>. Alasan sirkumsisi masih belum jelas pada masa itu tetapi teori-teori memperkirakan bahwa sirkumsisi merupakan bagian dari ritual pengorbanan atau tanda penyerahan pada Yang Maha Kuasa, tahapan menuju dewasa, tanda kekalahan atau <a title="Perbudakan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perbudakan">perbudakan</a>, atau upaya untuk menghambat fungsi seksual yang dianggap berlebihan. Sirkumsisi pada laki-laki diwajibkan pada agama <a title="Islam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam">Islam</a> dan <a title="Yahudi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yahudi">Yahudi</a>. Sirkumsisi juga terdapat di kalangan mayoritas penduduk <a title="Korea Selatan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Korea_Selatan">Korea Selatan</a>, <a title="Amerika" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika">Amerika</a>, dan <a title="Filipina" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Filipina">Filipina</a>. Dalam Islam, sirkumsisi tidak hanya dilakukan pada laki-laki, tetapi juga kepada perempuan. Pada perempuan sirkumsisi dilakukan dengan memotong bagian kulit yang terlihat menonjol ke atas vagina, dalam hal ini sering kali klitoris dan sebagian labia mayora dan labia minora. Metode klasik yang dilakukan secara tradisional adalah dengan menggunakan sebuah alat tajam misalnya sebilah bambu tajam atau pisau yang  langsung memotong preputium tanpa anesetesi (pembiusan). Bekas luka tidak dijahit dan langsung dibungkus dengan kain atau ramuan herbal tertentu. Sering kali cara ini mengakibatkan perdarahan dan infeksi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sirkumsisi Laki-laki Untuk Kesehatan Dan Pencegahan Penyakit</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Indikasi medis yang paling sering ditemui adalah phimosis. Kondisi lain adalah paraphimosis, balanopostitis berulang (<em>recurrent balanopostitis</em>) dan <em>balanitis xerotica olbiterans</em>. Sedangkan beberapa penyakit yang diduga berkurang risikonya dengan menjalani sirkumsisi adalah Infeksi Saluran Kemih (ISK), beberapa jenis Infeksi Menular Seksual (IMS), kanker serviks (pada pasangan seksualnya) dan kanker penis. Karena masih dugaan, seringkali masih mengundang kontroversi saat didiskusikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian ISK pada anak laki-laki usia sekitar 10 tahun adalah 1-2%. Ginsburg dan McCracken pertama kali melaporkan insiden ISK lebih tinggi pada anak laki-laki yang tidak disirkumsisi. Di sisi lain, terdapat 2% (20 per 1.000) kasus komplikasi dari prosedur sirkumsisi, terutama perdarahan dan infeksi. Beberapa publikasi mengenai hubungan antara sirkumsisi dan IMS masih sering membingungkan. Riwayat berhubungan seksual dengan laki-laki yang tidak disirkumsisi dapat menjadi faktor risiko tertular herpes simpleks (HSV) tipe-2 pada perempuan. Kalau sebuah studi di Australia pada tahun 1983 menyebutkan bahwa herpes genitalis, kandidiasis, gonore dan sifilis lebih sering terjadi pada laki-laki yang tidak disirkumsisi, tetapi justru sebuah studi baru di Australia juga malah menyebutkan bahwa sirkumsisi tidak memiliki dampak signifikan pada insiden IMS umum. Sebuah penelitian baru-baru ini melaporkan peningkatan risiko infeksi <em>Human Papilloma Virus</em> (HPV) pada laki-laki yang tidak disirkumsisi, dibandingkan dengan yang sudah disirkumsisi. Perempuan monogami yang pasangan laki-lakinya tidak disirkumsisi dan juga melakukan  hubungan seksual dengan enam atau lebih pasangan seksual memiliki risiko kanker serviks lebih tinggi dibandingkan perempuan yang pasangan seksualnya disirkumsisi dengan tipe prilaku seksual yang sama. Kanker penis merupakan kondisi yang jarang terjadi, dengan kejadian tahunan sekitar 1:100.000 laki-laki di dunia. Ada bukti bahwa sirkumsisi pada bayi akan memeberikan perlindungan dari kanker glans penis tapi tidak dari bagian shaft penis.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sirkumsisi dan Pencegahan HIV</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Secara kumulatif kasus pengidap HIV dan AIDS di Indonesia yang telah dikoreksi dari tanggal 1 Januari 1987 hingga 31 Maret 2009 terdiri dari HIV 6.668 kasus, AIDS 16.964 kasus, sehingga jumlah keseluruhannya mencapai 23.632 kasus, dengan angka kematian 3.492 jiwa. Belakangan ini meningkatnya HIV dan AIDS lebih banyak dikarenakan hubungan heteroseksual. Jika dilihat dari faktor risiko maka antara lain heteroseksual mencapai 8.210, homoseksual mencapai 628, jarum suntik atau IDU mencapai 7.125, transmisi perinatal atau ibu yang sedang hamil yang menular kepada bayi mencapai 390, dan tak diketahui sebabnya mencapai 611 kasus.</p>
<p style="text-align: justify;">Anjuran penggunaan kondom untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual masih menemui banyak hambatan.  Metode pencegahan yang di kontrol oleh perempuan (female control method) melalui femidom yang dimunculkan lagi sesungguhnya didasarkan atas kenyataan bahwa angka penggunaan kondom yang masih relatif rendah dalam hubungan seks yang berisiko adanya fakta bahwa banyak pria yang sering melakukan hubungan seks berganti pasangan enggan untuk menggunakan kondom sehingga meningkatkan risiko penularan HIV.  Lalu, adanya kabar baik tentang kemunculan mikrobisida yang tadinya membawa harapan pun akhirnya kandas.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai tanggapan atas kebutuhan mendesak untuk mengurangi jumlah infeksi HIV baru secara global, World Health Organization (WHO) dan UNAIDS mengadakan konsultasi pakar internasional pada bulan Maret 2007 untuk menentukan apakah sirkumsisi laki-laki harus direkomendasikan sebagai standar pencegahan HIV. Dari beberapa uji klinis yang telah dilakukan menunjukkan sirkumsisi pada laki-laki dapat mengurangi penularan HIV hingga 60%. Berdasarkan bukti-bukti yang ada, para ahli yang menghadiri konsultasi merekomendasikan bahwa Sirkumsisi laki-laki sekarang harus diakui sebagai suatu intervensi penting tambahan untuk mengurangi risiko infeksi tertular HIV secara heteroseksual pada laki-laki.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sisi lain, The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) saat ini malah mengeluarkan pernyataan melalui sebuah studi baru yang dilakukan oleh CDC, bahwa  sirkumsisi tidak mengurangi risiko tertular HIV di antara laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki. Studi CDC ini juga untuk melengkapi pertanyaan-pertanyaan seperti apakah kesimpulan yang didapatkan oleh UNAIDS juga bisa berlaku sama di seluruh dunia? Studi-studi yang dilakukan dan dikutip oleh UNAIDS sebagian besar di  Afrika, di mana prevalensi HIV tinggi, angka sirkumsisi laki-laki rendah, dan cara penularan HIV yang paling utama adalah lewat hubungan heteroseksual. Tentu saja situasinya di tempat lain belum tentu sama. Misalnya di Amerika Serikat, setengah dari semua infeksi baru terjadi pada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki. Cara penularan seperti ini tidak terlalu berpengaruh dengan prosedur sirkumsisi.</p>
<p style="text-align: justify;">CDC telah merilis sebuah pernyataan di situs yang menyatakan bahwa keputusan untuk merekomendasikan sirkumsisi sebagai sebuah prosedur resmi untuk pencegahan HIV masih belum final. Karena sesungguhnya perlu dipertimbangkan juga bahwa bayi laki-laki yang baru lahir tanpa sempat disirkumsisi pun bisa tertular HIV, dan laki-laki yang sudah disirkumsisi tetapi melakukan aktivitas seksual sesama laki-laki belumlah terlindungi dengan sirkumsisi ini. Maka pada akhirnya keputusan akhir yang diperlakukan CDC saat ini, sirkumsisi adalah bersifat sukarela.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya sirkumsisi hanyalah mengurangi risiko infeksi HIV, bukan itu mencegah infeksi. Laki-laki masih harus menggunakan kondom untuk mencegah HIV. Sirkumsisi diyakini dapat melindungi orang dari infeksi HIV karena preputium penis lebih rentan terhadap HIV dan dapat menjadi tempat masuk utama virus.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sirkumsisi dan Hak Seksual </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hak-hak Seksual yang disepakati menurut WHO pada Juni 2009 didasari atas HAM yang bebas dari diskriminasi dan kekerasan, meliputi hak akan; (1) Akses  layanan kesehatan seksual  termasuk kesehatan  reproduksi ,(2) Semua layanan yang terkait dengan seksualitas, (3) Pendidikan seksualitas, (4) Penghormatan terhadap integritas tubuh, (5) Memilih – memutuskan  pasangan seksual, (6) Memutuskan aktif secara seksual atau tidak, (7) Konsensus relasi seksual, (8) Konsesus pernikahan, (9) Memutuskan  punya  anak atau tidak, (10) Memperoleh kepuasan seksual dan (11) Jaminan hubungan seksual yang aman (tidak menulari dan ditulari IMS dan HIV).</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.sciencedirect.com/science?_ob=ArticleURL&amp;_udi=B6VJW-4FXWJJC-13&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;_coverDate=04%2F30%2F2005&amp;_alid=389565158&amp;_rdoc=1&amp;_fmt=&amp;_orig=search&amp;_qd=1&amp;_cdi=6105&amp;_sort=d&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;view=c&amp;_acct=C000009718&amp;_version=1&amp;_urlVersion=0&amp;_userid=4161417&amp;md5=335f52f3b276bcf16fd3c434780dc84d" target="_blank">Jurnal of Urology April 2005</a> menyebutkan bahwa sirkumsisi menurunkan kepuasan seksual karena pada preputium yang dipotong tersebut terdapat syaraf-syaraf yang sangat peka. Selama ini, bila terjadi kontroversi seputar sirkumsisi, nampaknya semua sepakat tentang pelarangan sirkumsisi pada perempuan. Karena tindakan inipun  tidak dikenal sama sekali dalam dunia medis. Pemotongan atau pengirisan kulit sekitar klitoris apalagi klitorisnya sangat merugikan. Tidak ada indikasi medis untuk mendasarinya. Ada kritik bahwa tindakan sirkumsisi yang dilakukan orang tua terhadap anak laki-lakinya mengandung arti bahwa orang tua telah mengambil hak anaknya dalam memutuskan tindakan terhadap tubuhnya, termasuk keputusan dan hak seksualnya. Namun dalam hal ini, pertimbangan keagamaan dan budaya sering kali masih diakui dalam mengambil keputusan. Karena itu, tentu saja tugas petugas medis adalah memberikan informasi apa adanya, agar orang tua dapat memutuskan sendiri pilihan bagi anaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan laki-laki sirkumsisi terbukti memiliki fungsi yang signifikan dalam pencegahan HIV, karena aktivitas seksual ano-genital atau seks anal tetap sangat berisiko menimbulkan peluang penularan walaupun sudah disirkumsisi. Ini juga memberikan nilai risiko juga kepada pasangan heteroseksual yang juga melakukan seks anal sebagai variasi seksualnya. Aktivitas seks anal sendiri bukanlah sebuah anomali. Di samping dilakukan oleh laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki, seks anal sering juga dilakukan oleh pasangan heteroseksual sebagai variasi seksual. Dan melakukan seks anal sebagai variasi seksual adalah hak seksual dari setiap orang untuk bisa mengeksplorasi seksualitasnya. Selama pasangan menyetujuinya dan tidak ada hambatan psikis maka hal ini bisa dilakukan dengan menyenangkan bersama.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Simpulan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan perkembangan terakhir atas pertimbangan sosial, kesehatan dan hak seksual manusia, maka tentang sirkumsisi pada laki-laki dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Keputusan sirkumsisi itu individual. (2) Kalaupun laki-laki sudah disirkumsisi bukan berarti aman dari infeksi menular seksual, karenanya tetap harus menggunakan kondom, karena manfaat sirkumsisi masih parsial. (3) Perlu diperhatikan secara hak-hak seksual dalam tindakannya dan dipertimbangkan dengan baik karena pada sebagian orang menghilangkan kenikmatan seksual.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Disampaikan dalam Kongres Nasional Seksologi 2009 di Pontianak dan dimuat di Harian Dewata Pos, Maret 2010<br />
Gambar dari <a href="http://www.danheller.com">www.danheller.com</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.okanegara.com/artikel-lengkap-yang-pernah-ditulis/sekali-lagi-tentang-sirkumsisi-laki-laki-antara-tradisi-pencegahan-hiv-dan-hak-seksual.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teringat Kembali: &#8220;Untuk Ketut&#8221;</title>
		<link>http://www.okanegara.com/wonderful-life/teringat-kembali-untuk-ketut.html</link>
		<comments>http://www.okanegara.com/wonderful-life/teringat-kembali-untuk-ketut.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 04:13:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[AIDS Corner]]></category>
		<category><![CDATA[Wonderful Life]]></category>
		<category><![CDATA[aids]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[hiv]]></category>
		<category><![CDATA[kid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[Suasana hati saya kembali mengingat sebuah untaian kata yang sempat saya tulis kira-kira setahun lebih lalu. Hari ini kembali saya bertemu dengan seorang anak. Masih sangat muda. Terinfeksi HIV.  Dan saya teringat kembali. Letih. Letih sekali. Kaki ini hampir mati rasa. Tak kuat lagi melangkah. Tapi ku tak boleh berhenti. Berhenti berarti pecundang. Karena ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-444" title="kid hiv" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/01/kid-hiv-200x300.jpg" alt="kid hiv" width="200" height="300" />Suasana hati saya kembali mengingat sebuah untaian kata yang sempat saya tulis kira-kira setahun lebih lalu. Hari ini kembali saya bertemu dengan seorang anak. Masih sangat muda. Terinfeksi HIV.  Dan saya teringat kembali.</p>
<p>Letih.<br />
Letih sekali.<br />
Kaki ini hampir mati rasa.<br />
Tak kuat lagi melangkah.<br />
Tapi ku tak boleh berhenti.<br />
Berhenti berarti pecundang.<br />
Karena ada yang lebih letih.<br />
Anak-anak itu.<br />
Lebam dan radang tengah terjadi.<br />
Nafas tidak lagi segar.<br />
Darahpun kini berlumur mahluk asing.<br />
Mahluk yang tidak diharap hadir.<br />
Si virus itu.<br />
Yang telah merenggut orang yang disayangi.<br />
Hari ini, mahluk itu masih menjadi sahabat.<br />
Hari ini, mereka masih bermain bersama.<br />
Esok hari, tidak akan lagi sama.<br />
Virus licik itu akan merubah segalanya.<br />
Ketut, ini kubawakan buku tulis.<br />
Buku buatmu menulis.<br />
Tulislah semua.<br />
Tentang hari yang masih indah.</p>
<p><strong><em>“untuk ketut”</em></strong><br />
by okanegara, 1 Desember 2008</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk semua anak-anak yang ditinggal orangtuanya, anak-anak yang terdampak oleh HIV AIDS. Kepedulian adalah kata yang dinanti di jaman ini bagi segelintir orang. Sebuah buku tulis dan buku bacaan bagi banyak orang adalah hal biasa. Tetapi tidak bagi mereka, anak-anak yatim piatu yang tidak lagi punya sandaran harta. Sekali lagi ini bukan tentang harga, tetapi tentang kepedulian. Kita bisa berbagi apa saja yang dibutuhkan anak-anak ini. Bagi sebagian orang bisa jadi kecil, tetapi itu bisa berarti banyak untuk yang lain. Tidak perlu menunggu sayap itu tumbuh untuk menjadi malaikat. Semua orang bisa menjadi malaikat bagi orang lain.</p>
<p>foto: www.zipthumbs.com/wow/HIV.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.okanegara.com/wonderful-life/teringat-kembali-untuk-ketut.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hitler Ikut Kampanye AIDS?</title>
		<link>http://www.okanegara.com/sexuality-blitz/367.html</link>
		<comments>http://www.okanegara.com/sexuality-blitz/367.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 16:47:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[AIDS Corner]]></category>
		<category><![CDATA[Sexuality Blitz]]></category>
		<category><![CDATA[aids]]></category>
		<category><![CDATA[aids campaign]]></category>
		<category><![CDATA[hitler]]></category>
		<category><![CDATA[hiv]]></category>
		<category><![CDATA[saddam husein]]></category>
		<category><![CDATA[stalin]]></category>
		<category><![CDATA[stigma and discrimination]]></category>
		<category><![CDATA[world aids day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=367</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah kampanye dengan pencitraan iklan yang hiperbolis berupa klip video berdurasi 45 detik diluncurkan menampilkan sosok “Adolf Hitler” yang tampak berhubungan seksual. Terkesan tanpa menggunakan proteksi. Tetapi rupanya iklan yang akan ditayangkan di TV Jerman dan bisa dilihat di www.aids-is-a-mass-murderer.com ini akan menjadi kontroversial. Iklan ini memang terlihat menarik dan akan sangat mengundang minat untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-369" title="EN-A6-Hitler" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/09/EN-A6-Hitler1-213x300.jpg" alt="EN-A6-Hitler" width="213" height="300" />Sebuah kampanye dengan pencitraan iklan yang hiperbolis berupa klip video berdurasi 45 detik diluncurkan menampilkan sosok “Adolf Hitler” yang tampak berhubungan seksual. Terkesan tanpa menggunakan proteksi. Tetapi rupanya iklan yang akan ditayangkan di TV Jerman dan bisa dilihat di <a href="http://www.aids-is-a-mass-murderer.com/">www.aids-is-a-mass-murderer.com</a> ini akan menjadi kontroversial. Iklan ini memang terlihat menarik dan akan sangat mengundang minat untuk menyimaknya. Tetapi rupanya telah menjadi “sebuah pesan salah” yang bisa berakibat tujuan dari kampanye global penanggulangan HIV dan AIDS menjadi terdistorsi dan tidak tercapai.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjadi sebuah negara maju dengan masyarakat yang <em>well educated</em>, ternyata tidak menjamin bagi sebuah negara sekelas Jerman bisa menghasilkan kemasan iklan berkualitas dengan pesan yang tepat. Pesan layanan masyarakat berupa sebuah dan tiga buah poster yang ditujukan untuk kampanye Hari AIDS Sedunia 1 Desember yang akan datang memperlihatkan tampilan sosok Adolf Hitler, Saddam Hussein, dan Josef Stalin yang masing-masing berhubungan seksual dengan seorang perempuan yang penuh gairah.  Sepertinya persepsi yang ingin dibentuk adalah “tiga manusia pembunuh utama di muka bumi ini” analoginya sama dengan AIDS. Sama-sama pembunuh masa. Sepertinya memang ini maksud dalam kampanye bertitel <strong><em>“AIDS is a mass murderer”</em></strong> ini. Tetapi, cocokkah analogi ini? I don`t think so. Menyamakan AIDS dengan sosok-sosok “bersejarah” tersebut justru akan menimbulkan rasa tidak bersahabat dengan AIDS dan pengidap HIV (tentu saja pengidap HIV dengan AIDS itu sendiri belum dapat dipisahkan sampai saat ini). Iklan ini sangat berpotensi membuat stempel buruk. Stigma. Dan juga diskriminasi. Sebuah stempel yang justru selama ini ingin dikikis, sehingga pencegahan dan penanggulangan HIV bisa mendekati yang diharapkan bersama. Di sini rupanya bumerang itu. Sekali lagi, pencitraan yang dimunculkan justru bisa mengakibatkan bertambah kuatnya stigma.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-370" title="mass" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/09/mass-300x140.jpg" alt="mass" width="300" height="140" />Perlu diingat kembali bahwa HIV dan bahkan AIDS tidak lagi muncul dengan wajah sangar, menakutkan dan penyakitan. Tetapi kini sudah terbiasa tampil dengan wajah yang sangat normal. Ibu rumah tangga yang baik-baik saja,rajin beribadah, tidak pernah selingkuh dan tidak pernah terpikir untuk menggunakan narkoba. Dan tentu saja ingat dengan bayi-bayi yang belum berbuat salahpun bisa kena.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang benar bahwa kita harus kembali mengingat kasus AIDS yang terus bertambah. Sangat baik untuk kembali membangkitkan kesadaran orang banyak dengan pesan yang menyentak. Kembali menyadarkan masyarakat lagi untuk bisa belajar dan diskusi tentang HIV, pencegahannya, penggunaan kondom, menyampaikan bahwa AIDS itu masih selalu ada. Tetapi ingat, kita juga harus mengikis stigma dan diskriminasi.  Paling tidak itu menurut saya. What about you?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.okanegara.com/sexuality-blitz/367.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AIDS Corner; 5 Hal (Lagi) Yang Harus Diketahui</title>
		<link>http://www.okanegara.com/aids-corner/aids-corner-5-hal-lagi-yang-harus-diketahui-tentang-hivaids.html</link>
		<comments>http://www.okanegara.com/aids-corner/aids-corner-5-hal-lagi-yang-harus-diketahui-tentang-hivaids.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 10:41:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[AIDS Corner]]></category>
		<category><![CDATA[aids]]></category>
		<category><![CDATA[hiv]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[AIDS CORNER adalah rubrik tentang HIV AIDS dan Seksualitas yang sempat saya asuh di tabloid Magic Wave, tabloid khusus untuk komunitas surfer di Indonesia. Berikut ini arsip artikel untuk edisi pertama. Hi, pa bnr kalo bdn kita shat n bugar bs kena HIV? (Stev, 081805506xxx, 15 th, Legian) Aq mo tany bener ya obat HIV [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-210" title="aids" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/06/aids.jpg" alt="aids" width="207" height="219" />AIDS CORNER adalah rubrik tentang HIV AIDS dan Seksualitas yang sempat saya asuh di tabloid Magic Wave, tabloid khusus untuk komunitas surfer di Indonesia. Berikut ini arsip artikel untuk edisi pertama.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><em>Hi, pa bnr kalo bdn kita shat n bugar bs kena HIV? (Stev, 081805506xxx, 15 th, Legian)<br />
Aq mo tany bener ya obat HIV dah ketemu??? (Nana, 081338766xxx, 18 th, Dps)<br />
SeeApA Aja yG bS kN AIDS?apA 0rAL seXX amAn dari HIV? (Leo, 081805621xxx,17 th, Seminyak)</em></span></p>
<p style="text-align: justify;">AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) disebabkan oleh virus yang disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. HIV hanya bisa ditularkan lewat aktivitas yang mengakibatkan pertukaran darah, cairan kelamin maupun air susu. Selain itu tidak bisa menular. Jadi setiap orang bisa saja berisiko. Uniknya, ketika HIV masuk ke tubuh tidak langsung memunculkan gejala, setelah 5-10 tahun baru akan memperlihatkan gejala sakit, karena saking lemahnya daya tahan tubuh. Tetapi sebelum nampak sakit, sejak awal dia sudah bisa menularkan virusnya. So, cuma lewat tes darah baru bisa mengetahui seseorang mengidap HIV atau tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak kasusnya di Bali pertama kali diketahui tahun 1987, hingga September 2007 telah tercatat 1508 kasus. Jumlah perkiraan sesungguhnya yang ada sekitar 4000an kasus, yang 2700 dari penularan lewat seks, yang 1300 dari narkoba suntikan (putaw). Sebagian besar adalah dari kalangan anak muda. Jadi sekarang sudah saatnya remaja, para grommet &amp; surfer untuk memahami AIDS dengan lebih cerdas.</p>
<p align="left">Nah, ini lima hal lagi yang harus diketahui tentang HIV/AIDS.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Masih Saja Ada Remaja Yang Suka Gonta-ganti Partner Seks Dengan Percaya Diri Bilang Kalau Dia Tidak Mungkin Kena HIV</strong><br />
Banyak yang percaya bahwa selama badan sehat, rajin olah raga, rajin fitness dan selalu minum vitamin tidak akan kena masalah jika gonta-ganti pacar, hingga seringkali akhirnya melakukan hubungan seks tanpa kondom. Kenapa berani tanpa kondom, karena dilihat partner seksnya juga bersih dan jauh dari kesan berpenyakit. Kalau tidak yakin, sebagian mencoba minum antibiotik sembarangan yang dianggap bisa mencegah IMS (Infeksi Menular Seksual). Tapi, apa ini semua benar? Tentu saja salah besar.<br />
Fakta: Siapa yang bisa memastikan seseorang positif HIV tanpa melalui tes darah? Ingat, selama 5-10 tahun pertama HIV tidak memperlihatkan gejala apapun. Jadi tetaplah setia dengan pasangan, atau pakai kondom bila sering melakukan aktivitas berganti pasangan seksual. Antibiotik hanya bisa diminum atas petunjuk dokter dan bukan untuk mencegah HIV.<span id="more-207"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. HIV Tidak Pilih-Pilih Orang</strong><br />
Sejak kemunculannya diketahui dunia 26 tahun lalu, pandangan orang termasuk para remaja sampai hari ini masih saja sering keliru. Mereka masih percaya hanya kelompok-kelompok tertentu saja yang bisa mengidap HIV/AIDS. Remaja menganggap hanya kalangan gay, pecandu putaw dan pekerja seks saja yang dapat tertular. Tapi, tentu saja ini cuma mitos.<br />
Fakta: Setiap orang berpotensi terinfeksi HIV. Baik itu orang tua, anak muda bahkan anak kecil, laki-laki maupun perempuan, kaya dan miskin, gelandangan atau para surfer sekalipun. HIV dapat menginfeksi siapa saja yang tidak melakukan tindakan pencegahan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. Ternyata Remaja Lebih Takut Hamil Daripada HIV/AIDS</strong><br />
Banyak remaja percaya satu-satunya risiko yang paling ditakuti dari berhubungan seks tanpa kondom hanyalah kehamilan. Akibatnya untuk mencegah kehamilan, para remaja mencoba-coba dengan teknik oral seks atau melakukan sanggama terputus. Tentunya, sekali lagi jangan ikuti pemikiran ini.<br />
Fakta: Sayangnya, ada banyak hal yang mestinya harus lebih ditakuti remaja. Antara lain adalah risiko terkena IMS. Jenis IMS seperti Herpes, Sifilis, termasuk HIV seharusnya lebih menjadi perhatian remaja ketimbang sekadar hamil di luar nikah. Sebab, sekali terkena, mereka akan menderita sepanjang hidup.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4. “Blow Job” Tidak Seaman Yang Kamu Pikirkan</strong><br />
Karena pengaruh bacaan dan video porno, aktivitas oral seks makin sering dilakukan. Banyak remaja percaya bahwa oral seks pasti aman. Sebab, para remaja berpikir bisa terbebas dari risiko hamil dan tertular penyakit. Sayangnya, ini juga mitos.<br />
Fakta: Oral seks tidak seaman yang remaja pikirkan. Banyak penelitian menunjukkan, pada mereka yang tertular HIV, konsentrasi virus HIV baik di cairan sperma maupun cairan vagina juga tinggi. HIV bisa masuk melalui aliran darah di selaput lendir rongga mulut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>5. Tentu Saja HIV Belum Bisa Disembuhkan</strong><br />
Obat ARV (Anti Retroviral) termutakhir telah berhasil memangkas tingkat kematian akibat AIDS hingga 80%. Obat-obatan ini juga kini lebih mudah dikonsumsi daripada sebelumnya. Banyak yang percaya bahwa ARV adalah segala-galanya. Tentu saja ini perlu dipikirkan kembali dengan secermat-cermatnya, karena tidaklah sesederhana itu.<br />
Fakta: Mereka yang terinfeksi HIV sesungguhnya dapat hidup lebih lama, namun ARV dapat mengakibatkan efek samping, harganya masih mahal, dan harus dikonsumsi setiap hari seumur hidup. Apabila kelewatan terlalu banyak dosis obat, HIV dapat menjadi kebal. Dan sayangnya, meski menjalani perawatan medis, seorang pengidap HIV belum bisa sembuh total. Jadi bukan ARV yang segala-galanya, tetapi upaya pencegahan diri tetap yang nomer satu.</p>
<p style="text-align: justify;">Well, buat para remaja, sebisa mungkin jangan dulu berhubungan seksual, atau tetap setia dengan pasangannya. Buat yang memilih punya pasangan banyak dan berganti-ganti pastikan selalu menggunakan kondom. Jangan pernah juga menggunakan narkoba apapun alasannya. Then, cari tahu fakta-fakta tentang AIDS yang benar dan buang jauh-jauh mitos-mitos yang menyesatkan. So, Keep The Promise, Stop AIDS!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.okanegara.com/aids-corner/aids-corner-5-hal-lagi-yang-harus-diketahui-tentang-hivaids.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

