<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Oka Negara &#187; aids</title>
	<atom:link href="http://www.okanegara.com/tag/aids/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.okanegara.com</link>
	<description>sexuality.reproductive health.youth.life.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 May 2010 07:41:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Teringat Kembali: &#8220;Untuk Ketut&#8221;</title>
		<link>http://www.okanegara.com/wonderful-life/teringat-kembali-untuk-ketut.html</link>
		<comments>http://www.okanegara.com/wonderful-life/teringat-kembali-untuk-ketut.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 04:13:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[AIDS Corner]]></category>
		<category><![CDATA[Wonderful Life]]></category>
		<category><![CDATA[aids]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[hiv]]></category>
		<category><![CDATA[kid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[Suasana hati saya kembali mengingat sebuah untaian kata yang sempat saya tulis kira-kira setahun lebih lalu. Hari ini kembali saya bertemu dengan seorang anak. Masih sangat muda. Terinfeksi HIV.  Dan saya teringat kembali. Letih. Letih sekali. Kaki ini hampir mati rasa. Tak kuat lagi melangkah. Tapi ku tak boleh berhenti. Berhenti berarti pecundang. Karena ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-444" title="kid hiv" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/01/kid-hiv-200x300.jpg" alt="kid hiv" width="200" height="300" />Suasana hati saya kembali mengingat sebuah untaian kata yang sempat saya tulis kira-kira setahun lebih lalu. Hari ini kembali saya bertemu dengan seorang anak. Masih sangat muda. Terinfeksi HIV.  Dan saya teringat kembali.</p>
<p>Letih.<br />
Letih sekali.<br />
Kaki ini hampir mati rasa.<br />
Tak kuat lagi melangkah.<br />
Tapi ku tak boleh berhenti.<br />
Berhenti berarti pecundang.<br />
Karena ada yang lebih letih.<br />
Anak-anak itu.<br />
Lebam dan radang tengah terjadi.<br />
Nafas tidak lagi segar.<br />
Darahpun kini berlumur mahluk asing.<br />
Mahluk yang tidak diharap hadir.<br />
Si virus itu.<br />
Yang telah merenggut orang yang disayangi.<br />
Hari ini, mahluk itu masih menjadi sahabat.<br />
Hari ini, mereka masih bermain bersama.<br />
Esok hari, tidak akan lagi sama.<br />
Virus licik itu akan merubah segalanya.<br />
Ketut, ini kubawakan buku tulis.<br />
Buku buatmu menulis.<br />
Tulislah semua.<br />
Tentang hari yang masih indah.</p>
<p><strong><em>“untuk ketut”</em></strong><br />
by okanegara, 1 Desember 2008</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk semua anak-anak yang ditinggal orangtuanya, anak-anak yang terdampak oleh HIV AIDS. Kepedulian adalah kata yang dinanti di jaman ini bagi segelintir orang. Sebuah buku tulis dan buku bacaan bagi banyak orang adalah hal biasa. Tetapi tidak bagi mereka, anak-anak yatim piatu yang tidak lagi punya sandaran harta. Sekali lagi ini bukan tentang harga, tetapi tentang kepedulian. Kita bisa berbagi apa saja yang dibutuhkan anak-anak ini. Bagi sebagian orang bisa jadi kecil, tetapi itu bisa berarti banyak untuk yang lain. Tidak perlu menunggu sayap itu tumbuh untuk menjadi malaikat. Semua orang bisa menjadi malaikat bagi orang lain.</p>
<p>foto: www.zipthumbs.com/wow/HIV.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.okanegara.com/wonderful-life/teringat-kembali-untuk-ketut.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari AIDS Lagi. Lagi-lagi Masih Banyak Yang Perlu Dikerjakan.</title>
		<link>http://www.okanegara.com/youth-world/hari-aids-lagi-lagi-lagi-masih-banyak-yang-perlu-dikerjakan.html</link>
		<comments>http://www.okanegara.com/youth-world/hari-aids-lagi-lagi-lagi-masih-banyak-yang-perlu-dikerjakan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 07:42:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[AIDS Corner]]></category>
		<category><![CDATA[Wonderful Life]]></category>
		<category><![CDATA[Youth World]]></category>
		<category><![CDATA[aids]]></category>
		<category><![CDATA[world aids day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[Sejak pagi tadi terlihat banyak siswa sekolah, aktivis LSM dan mereka yang mencoba peduli dengan permasalahan HIV AIDS turun ke jalan. Hari ini 1 Desember adalah saat orang-orang di berbagai belahan dunia ikut merayakan World AIDS Day atau Hari AIDS Sedunia. Bagi yang sudah pernah mengikuti atau mengetahuinya, tentu saja sudah sangat lekat dengan maraknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-430" title="has" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/12/has-300x192.jpg" alt="has" width="300" height="192" />Sejak pagi tadi terlihat banyak siswa sekolah, aktivis LSM dan mereka yang mencoba peduli dengan permasalahan HIV AIDS turun ke jalan. Hari ini 1 Desember adalah saat orang-orang di berbagai belahan dunia ikut merayakan <a href="http://www.worldaidsday.org"><em>World AIDS Day</em></a> atau Hari AIDS Sedunia. Bagi yang sudah pernah mengikuti atau mengetahuinya, tentu saja sudah sangat lekat dengan maraknya pita merah, lambang kepedulian terhadap HIV AIDS yang sering kali menjadi ikon perayaan Hari AIDS Sedunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dunia terdapat sekitar 40 juta orang hidup dengan HIV dalam darahnya, dan diperkirakan setiap harinya 14.000 orang terinfeksi HIV. Itu artinya dalam setiap enam detik terdapat penambahan satu kasus baru. Pengidap HIV AIDS di Indonesia hingga akhir September lalu mencapai 18.442 orang tersebar di 32 propinsi dan 300 kabupaten/kota dengan rasio 3:1 antara laki-laki dan perempuan (berdasarkan data yang dikeluarkan Dirjen P2PL Departemen Kesehatan RI).  Kalau ditelusuri rata-ratanya adalah 8,15 per 100.000 penduduk jika memakai jumlah penyebut dari jumlah penduduk berdasarkan data BPS 2006. Secara kumulatif sejak ditemukan pertama kali kasus AIDS di Bali pada tahun 1987, cara penularannya melalui aktivitas seksual heteroseksual sebanyak 49,7%, IDU (<em>Injecting Drug User</em>) atau pengguna narkotika suntikan sebanyak 40,7%, lalu penularan lewat kasus laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki sebanyak 3,4% berdasarkan perilaku berisiko.  Dari usia, yang terinfeksi pada kelompok usia 20-29 sebanyak 49,57%, disusul kelompok umur 30-39 tahun sebanyak 29,84% dan kelompok 40-49 tahun sebanyak 8,71%. Terlihat jelas usia muda dan produktif adalah kelompok utama yang tertular HIV saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya sudah banyak kemajuan terjadi. Jauh dari yang dipikirkan dan diduga sebelumnya. Bali sebagai salah satu contoh propinsi yang cukup aktif melakukan kegiatan penanggulangan secara bersinergi, saat ini bisa mulai perlahan mengurangi laju pertambahan kasus baru HIV bila dibandingkan dengan angka nasional. Dari yang di awal-awal kemunculannya selalu menempatkan Bali di tiga besar jumlah kumulatif kasus  HIV AIDS terbanyak di Indonesia, saat ini Bali sudah berada di tempat kelima. Urutan sepuluh besar jumlah kasusnya berdasarkan propinsi di Indonesia saat ini adalah Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Papua, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sumatra Utara, Riau, dan Kepulauan Riau.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Bali, penularan HIV di lembaga pemasyarakatan, yang sebelumnya sempat mengkhawatirkan karena maraknya penggunaan narkoba suntikan bersama-sama, saat ini juga sudah makin terkendali. Peningkatan kasus-kasus baru dari kalangan pengguna narkoba suntikan semakin menurun drastis. Bisa jadi ini bukti bahwa penanggulangan berbasis komunitas dan kelompok khusus melalui pendampingan sebaya lewat program <em>Harm Reduction</em> cukup berhasil. <em>Harm reduction</em> adalah upaya-upaya yang ditujukan khusus buat kalangan berperilaku berisiko untuk mengurangi dampak buruk yaitu mencegah tertular dari HIV, misalnya dengan pembagian jarum suntik steril kepada pengguna narkoba suntikan.  Atau program rumatan <em>methadone</em> dengan pemberian oral (diminum), untuk menggantikan heroin yang disuntikkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya, masalah masih tetap ada. Keberhasilan program <em>Harm Reduction</em> masih belum diikuti oleh keberhasilan dalam menekan kasus penularan HIV dari hubungan seksual yang tidak aman. Estimasi yang dibuat berdasarkan kalkulasi epidemiologis di Bali bisa banyak berbicara dalam memetakan kecenderungan terkini penularannya. Peningkatan estimasi pengidap HIV dan AIDS yang di awal tahun 2000an masih disebut dalam bilangan 3000 kasus (dengan rincian 1900 dari kasus-kasus seksual dan 1100 dari kasus-kasus narkoba suntik)  menjadi 4000 kasus di tahun 2004 (dengan rincian 2700 dari hubungan seksual tidak aman dan 1300 dari kasus-kasus narkoba suntik). Terlihat estimasi peningkatan yang cukup berarti pada kasus-kasus baru infeksi HIV lewat cara-cara hubungan seksual yang tidak aman. Sedangkan peningkatan kasus dari penggunaan narkoba suntikan tidaklah terlalu cepat. Peningkatan kasus-kasus baru dari hubungan seksual sangat dimungkinkan mengingat pencegahan dan penanggulangan dari cara penularan yang satu ini tidaklah mudah, karena hubungan seksual memang cukup susah untuk dikontrol dan dikendalikan mengingat sifatnya yang sangat personal dan memerlukan kesadaran pribadi yang kuat dan pemahaman yang konsisten tentang risiko hubungan seksual yang tidak aman.</p>
<p style="text-align: justify;">Akses masyarakat yang membutuhkan alat kontrasepsi juga masih sangat terbatas. Beberapa macam model kampanye telah dilakukan oleh berbagai lembaga, baik LSM maupun juga pihak swasta untuk mensosialisasikan penggunaan kondom, misalnya. Tetapi angka penggunaan kondom masih rendah, yaitu hanya sekitar 20-30%. Tentu saja ini masih sangat jauh dari yang ingin dicapai dalam Komitmen Sanur. Keberadaan femidom atau kondom perempuan juga masih terbatas dan belum banyak yang mengetahui. Padahal fungsi kondom tidak lagi hanya sebatas alat kontrasepsi, tetapi justru sebagai proteksi dan pencegahan terhadap infeksi menular seksual, termasuk pencegahan HIV di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kasus-kasus infeksi HIV AIDS juga bisa tampil dalam bentuk baju yang lain dengan fenomena sosial yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Kondisi lembaga pemasyarakatan  yang sesak, berjejal dengan banyaknya narapidana membuat mereka yang mengidap HIV menjadi tidak leluasa untuk bisa sekedar menjaga kesehatan. Kejadian Tuberkulosis akhirnya menjadi sering muncul sebelum yang bersangkutan masuk fase AIDS. Dan kemunculan Tuberkulosis ini justru akhirnya bisa memperburuk daya tahan tubuh pengidap HIV.  Tuberkulosis adalah infeksi oportunistik terbanyak dari puluhan infeksi oportunistik yang menyebabkan pengidap AIDS meninggal.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya permasalahan lainnya: resistensi HIV terhadap obat ARV. Obat yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup pengidap HIV dengan menekan laju replikasi HIV dalam tubuh. Agar terapi ARV berjalan optimal,  pengidap HIV harusnya patuh minum obat, selama seumur hidup. Jika tidak disiplin dalam menepati waktu minum atau lupa minum satu hari, maka ARV tidak akan berfungsi optimal dalam menekan virus. Malah, HIV di dalam tubuh menjadi kebal terhadap ARV. Resistensi juga bisa terjadi jika seseorang terinfeksi virus yang sudah resisten. Repotnya, hingga saat ini Indonesia belum memiliki fasilitas memadai untuk melakukan tes resistensi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, banyak anak-anak tidak berdosa yang juga terdampak HIV. Sebagian dari mereka sudah terinfeksi HIV sejak lahir. Sampai dengan tahun  2008 lalu, misalnya terdapat 23 anak-anak yang menjadi yatim piatu karena orang tua meninggal lebih dulu di daerah Gerokgak, Buleleng. Jadi problema HIV AIDS tidak semata-mata menyasar kalangan yang berisiko tinggi seperti mereka yang gonta-ganti pasangan seksual tanpa menggunakan kondom, atau mereka yang menggunakan narkoba suntikan bersama-sama, tetapi justru sudah memasuki wilayah rumah tangga. Anak-anak dan ibunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika hal-hal seperti ini masih juga belum bisa menyadarkan masyarakat untuk ikut peduli dan mau memahami HIV AIDS dengan lebih baik, jangan salah jika apa yang akan dialami Bali, kira-kira akan bisa terjadi sesuai dengan skenario berikut (dengan perhitungan masih dengan estimasi 3000 kasus): sekitar 50% dari mereka yang saat ini mengidap HIV dalam kurun waktu 5 tahun akan memasuki fase AIDS. Kemungkinan sekali separuh dari pengidap AIDS itu yaitu sekitar 750 orang akan membutuhkan perawatan. Tempat tidur yang dimiliki oleh RSUP Sanglah yang merupakan pusat pelayanan kesehatan rujukan saja hanya ada sekitar 800an. Bisa jadi sebagian besarnya akan dihuni oleh pengidap AIDS. Belum lagi disusul gelombang penderita baru yang semakin banyak. Kebutuhan akan dokter, perawat, obat, alat dan sebagainya akan juga meningkat. Bahwa di Bali akan berlangsung “ngaben” masal bisa saja mendekati kenyataan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan menakuti. Tapi itu semua bisa saja benar-benar terjadi. Semua bisa terjadi ketika upaya edukasi masyarakat secara menyeluruh belum juga tuntas sampai ke seluruh lapisan masyarakat. Ini mengakibatkan stigma dan diskriminasi masih terjadi. Upaya mengikis stigma sering kali juga belum bisa dibahasakan dengan baik dan seragam oleh berbagai kalangan. Malah hal seperti ini masih terjadi di tingkat pemahaman internasional sekalipun. Sebuah kampanye agresif dan intimidatif juga bisa terjadi di negara-negara maju seperti yang terjadi dalam kampanye controversial <a href="http://okanegara.com/sexuality-blitz/367.html"><em>“AIDS is Mass Murderer”</em></a> yang malah semakin memunculkan stigma AIDS yang menyeramkan. Padahal kenyataannya tidaklah lagi menakutkan.  Harusnya HIV AIDS bisa tampil lebih <em>soft</em> tanpa muatan stigma. Layaknya bagaimana keberadaan Hepatitis C, Hepatitis B yang jauh dari stigma. Bahkan sejak ampuhnya ARV dalam menekan laju HIV dalam tubuh (walaupun belum bisa disembuhkan), sesungguhnya infeksi HIV sudah bisa disejajarkan dengan berbagai penyakit kronis lainnya seperti diabetes, penyakit jantung maupun hipertensi, yang mana pengidap penyakit-penyakit kronis ini juga bisa berakibat fatal bila yang bersangkutan tidak memelihara kesehatan, berpola hidup sembarang dan tidak teratur mengkonsumsi obat.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbagai kampanye, bentuk-bentuk dukungan sebaya dan edukasi tetaplah harus bisa terus digiatkan, tentu saja dengan metode-metode yang masif progresif yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat lewat cara-cara yang efektif. Tidak hanya asal dan sekedar seremonial. Sangat disayangkan kalau upaya edukasi dan diseminasi informasi ke masyarakat ditunggangi dengan kegiatan-kegiatan kampanye personal demi popularitas atau mengejar jabatan dan kedudukan semata. Kenyataannya ini masih saja terjadi. Keberadaan organisasi-organisasi dengan segmen khusus harusnya juga bisa selalu didukung. Sebagi contoh, kehadiran kelompok siswa peduli AIDS di sekolah, misalnya, harusnya bisa ikut membangkitkan motivasi dan peluang yang lebih baik untuk selalu memberikan dukungan dan edukasi di tingkat lembaga pendidikan. Tentu saja rentetan berikutnya, pihak sekolah dan para guru dituntut untuk bisa selalu melengkapi diri dengan pengetahuan yang lebih baik dan <em>up to date</em> serta kemampuan yang baik dalam mentransfer informasi HIV AIDS yang benar buat siswanya. Karena sesungguhnya ini memiliki nilai strategis untuk memberikan akses informasi, rujukan pelayanan dan pemberdayaan anak dan remaja yang merupakan siswa di sekolah. Ini juga kesempatan yang strategis untuk mulai memberikan pemahaman yang benar tentang hak asasi dan hak-hak remaja, hingga bagaimana memberdayakan remaja dalam mengakses informasi dan pelayanan secara luas.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga perayaan Hari AIDS Sedunia kali ini tidak lagi menjadi seremonial belaka. Masih banyak hal yang menjadi pekerjaan rumah buat semuanya. Bukan hanya buat dokter, aktivis LSM, atau pemerintah saja sesungguhnya. Tapi semuanya. Termasuk masyarakat. Justru masyarakat yang harus lebih banyak berperan kondusif. Sudah saatnya memposisikan permasalahan HIV AIDS sebagai permasalahan bersama. Membiarkan mitos masih bertumbuh subur dan menganggap sepele hingga antipati terhadap upaya-upaya kepedulian terhadap fenomena HIV AIDS adalah juga bentuk tindakan tidak bertanggung jawab. Mempekerjakan pekerja seks tanpa mempedulikan nilai-nilai perilaku seks yang aman, melakukan diskriminasi dalam pelayanan kesehatan terhadap pengidap HIV dan AIDS,  tidak membekali anak dengan pengetahuan yang cukup tentang seksualitasnya, tidak memberikan edukasi yang memadai di sekolah tentang kesehatan reproduksi dan seksual adalah beberapa contoh pembiaran dan ketidak pedulian yang akan berakibat fatal buat masa depan generasi muda. Yang berarti pula sebuah upaya yang sering kali tanpa disadari merupakan sebuah upaya penghancuran bangsa. Berlebihan? Saya kira tidak. Jika kita tidak berbuat sesuatu bersama, ini semua hanya menunggu waktu. Karenanya, mari tetap peduli. Sekecil apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat Hari AIDS Se-Dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Okanegara, kampus sudirman, 1 Desember 2009, 12.00 Wita.</em></p>
<h6 style="text-align: justify;">*gambar di atas dan beberapa foto-foto Hari AIDS Sedunia di Indonesia bisa dilihat di <a href="http://news.id.msn.com/photogallery.aspx?cp-documentid=3728091&amp;page=3">sini</a><em><br />
</em></h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.okanegara.com/youth-world/hari-aids-lagi-lagi-lagi-masih-banyak-yang-perlu-dikerjakan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hitler Ikut Kampanye AIDS?</title>
		<link>http://www.okanegara.com/sexuality-blitz/367.html</link>
		<comments>http://www.okanegara.com/sexuality-blitz/367.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 16:47:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[AIDS Corner]]></category>
		<category><![CDATA[Sexuality Blitz]]></category>
		<category><![CDATA[aids]]></category>
		<category><![CDATA[aids campaign]]></category>
		<category><![CDATA[hitler]]></category>
		<category><![CDATA[hiv]]></category>
		<category><![CDATA[saddam husein]]></category>
		<category><![CDATA[stalin]]></category>
		<category><![CDATA[stigma and discrimination]]></category>
		<category><![CDATA[world aids day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=367</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah kampanye dengan pencitraan iklan yang hiperbolis berupa klip video berdurasi 45 detik diluncurkan menampilkan sosok “Adolf Hitler” yang tampak berhubungan seksual. Terkesan tanpa menggunakan proteksi. Tetapi rupanya iklan yang akan ditayangkan di TV Jerman dan bisa dilihat di www.aids-is-a-mass-murderer.com ini akan menjadi kontroversial. Iklan ini memang terlihat menarik dan akan sangat mengundang minat untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-369" title="EN-A6-Hitler" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/09/EN-A6-Hitler1-213x300.jpg" alt="EN-A6-Hitler" width="213" height="300" />Sebuah kampanye dengan pencitraan iklan yang hiperbolis berupa klip video berdurasi 45 detik diluncurkan menampilkan sosok “Adolf Hitler” yang tampak berhubungan seksual. Terkesan tanpa menggunakan proteksi. Tetapi rupanya iklan yang akan ditayangkan di TV Jerman dan bisa dilihat di <a href="http://www.aids-is-a-mass-murderer.com/">www.aids-is-a-mass-murderer.com</a> ini akan menjadi kontroversial. Iklan ini memang terlihat menarik dan akan sangat mengundang minat untuk menyimaknya. Tetapi rupanya telah menjadi “sebuah pesan salah” yang bisa berakibat tujuan dari kampanye global penanggulangan HIV dan AIDS menjadi terdistorsi dan tidak tercapai.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjadi sebuah negara maju dengan masyarakat yang <em>well educated</em>, ternyata tidak menjamin bagi sebuah negara sekelas Jerman bisa menghasilkan kemasan iklan berkualitas dengan pesan yang tepat. Pesan layanan masyarakat berupa sebuah dan tiga buah poster yang ditujukan untuk kampanye Hari AIDS Sedunia 1 Desember yang akan datang memperlihatkan tampilan sosok Adolf Hitler, Saddam Hussein, dan Josef Stalin yang masing-masing berhubungan seksual dengan seorang perempuan yang penuh gairah.  Sepertinya persepsi yang ingin dibentuk adalah “tiga manusia pembunuh utama di muka bumi ini” analoginya sama dengan AIDS. Sama-sama pembunuh masa. Sepertinya memang ini maksud dalam kampanye bertitel <strong><em>“AIDS is a mass murderer”</em></strong> ini. Tetapi, cocokkah analogi ini? I don`t think so. Menyamakan AIDS dengan sosok-sosok “bersejarah” tersebut justru akan menimbulkan rasa tidak bersahabat dengan AIDS dan pengidap HIV (tentu saja pengidap HIV dengan AIDS itu sendiri belum dapat dipisahkan sampai saat ini). Iklan ini sangat berpotensi membuat stempel buruk. Stigma. Dan juga diskriminasi. Sebuah stempel yang justru selama ini ingin dikikis, sehingga pencegahan dan penanggulangan HIV bisa mendekati yang diharapkan bersama. Di sini rupanya bumerang itu. Sekali lagi, pencitraan yang dimunculkan justru bisa mengakibatkan bertambah kuatnya stigma.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-370" title="mass" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/09/mass-300x140.jpg" alt="mass" width="300" height="140" />Perlu diingat kembali bahwa HIV dan bahkan AIDS tidak lagi muncul dengan wajah sangar, menakutkan dan penyakitan. Tetapi kini sudah terbiasa tampil dengan wajah yang sangat normal. Ibu rumah tangga yang baik-baik saja,rajin beribadah, tidak pernah selingkuh dan tidak pernah terpikir untuk menggunakan narkoba. Dan tentu saja ingat dengan bayi-bayi yang belum berbuat salahpun bisa kena.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang benar bahwa kita harus kembali mengingat kasus AIDS yang terus bertambah. Sangat baik untuk kembali membangkitkan kesadaran orang banyak dengan pesan yang menyentak. Kembali menyadarkan masyarakat lagi untuk bisa belajar dan diskusi tentang HIV, pencegahannya, penggunaan kondom, menyampaikan bahwa AIDS itu masih selalu ada. Tetapi ingat, kita juga harus mengikis stigma dan diskriminasi.  Paling tidak itu menurut saya. What about you?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.okanegara.com/sexuality-blitz/367.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Slide Edukasi: HIV dan Dimensi Penularan</title>
		<link>http://www.okanegara.com/aids-corner/hiv-dan-dimensi-penularan.html</link>
		<comments>http://www.okanegara.com/aids-corner/hiv-dan-dimensi-penularan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 18:13:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[AIDS Corner]]></category>
		<category><![CDATA[aids]]></category>
		<category><![CDATA[dimensi penularan]]></category>
		<category><![CDATA[slide edukasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Gambar Slide Edukasi 1: AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). AIDS adalah sebuah sindroma atau sekumpulan gejala penyakit yang muncul akibat tubuh mengalami penurunan daya tahan tubuh yang terjadi karena ditularkan (oleh virus bernama HIV). Gambar Slide Edukasi 2: HIV Ini gambaran yang sudah sangat diperbesar dari struktur virus penyebab AIDS yang bernama HIV (Human Immunodeficiency [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-medium wp-image-433" title="Slide1 AIDS" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/12/Slide1-AIDS-300x225.jpg" alt="Slide1 AIDS" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gambar Slide Edukasi 1: AIDS (<em>Acquired Immune Deficiency Syndrome</em>).</strong><br />
AIDS adalah sebuah sindroma atau sekumpulan gejala penyakit yang muncul akibat tubuh mengalami penurunan daya tahan tubuh yang terjadi karena ditularkan (oleh virus bernama HIV).</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-medium wp-image-434" title="Slide2 HIV" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/12/Slide2-HIV-300x225.jpg" alt="Slide2 HIV" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gambar Slide Edukasi 2: HIV</strong><br />
Ini gambaran yang sudah sangat diperbesar dari struktur virus penyebab AIDS yang bernama HIV (<em>Human Immunodeficiency Virus</em>). Sesuai namanya virus ini hanya menginfeksi manusia. Target yang diserang adalah sel imunitas tubuh/sel limfosit T.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-435" title="Slide3 MEDIA PENULARAN" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/12/Slide3-MEDIA-PENULARAN-300x225.jpg" alt="Slide3 MEDIA PENULARAN" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gambar Slide Edukasi 3: Cairan Tubuh Media Penularan HIV</strong><br />
HIV baru bisa tertular dari satu orang ke orang lain melalui perantaraan cairan tubuh, tetapi tidak sembarang cairan tubuh. Cairan tubuh yang menjadi media hidup HIV dan berpotensi menularkan HIV secara berturut-turut dalam konsentrasi atau jumlah virus yang paling tinggi ke rendah adalah:<br />
1. Darah (paling tinggi)<br />
2. Cairan kelamin (sperma atau cairan vagina)<br />
3. Air susu ibu (paling rendah).<br />
Di luar ketiga cairan ini <strong><span style="text-decoration: underline;">tidak</span></strong> berpotensi menularkan HIV. Itu artinya air mata, keringat, air seni dan air liur tidak berpotensi menularkan HIV.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-medium wp-image-436" title="Slide4 KEMUNGKINAN PENULARAN 1 KALI" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/12/Slide4-KEMUNGKINAN-PENULARAN-1-KALI-300x225.jpg" alt="Slide4 KEMUNGKINAN PENULARAN 1 KALI" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gambar Slide Edukasi 4: Kemungkinan Penularan HIV Per Satu Kali Kontak. </strong><br />
*IDU=<em>Injecting Drug User</em> (Pengguna Narkoba Suntik).<br />
Gambar ini menunjukkan kemungkinan penularan per satu kali kontak. Mengingat darah adalah media utama penularan HIV maka aktivitas yang melibatkan langsung kontak darah sehingga masuk ke tubuh akan memiliki peluang penularan tertinggi juga.<br />
Di sini aktivitas-aktivitas yang berisiko HIV bisa disebutkan:</p>
<p style="text-align: justify;">No. 1 :<br />
Untuk aktivitas tukar-menukar jarum suntik tidak steril saat menggunakan narkoba (IDU) dengan pengidap HIV dan aktivitas tranfusi darah yang tercemar HIV berpeluang paling tinggi dalam satu kali kontaknya. Peluangnya di atas 90%.</p>
<p style="text-align: justify;">No.2 :<br />
Untuk penularan dari Ibu yang mengidap HIV kepada bayinya sesungguhnya tidak langsung bayinya pasti tertular. Tetapi kemungkinan peluang bayinya tertular rata-rata berkisar 15-30% saja jika tanpa intervensi apapun. Bisa lebih jika Ibu sudah memasuki fase AIDS lanjut. Penularan sudah bisa dimungkinkan sejak saat kehamilan, persalinan dan menyusui. (Saat ini sudah tersedia program PMTCT/<em>Prevention of Mother To  Child Transmission</em>) dengan intervensi: 1) pemberian obat ARV saat hamil, 2) persalinan lewat operasi sesar dan 3) ibu tidak menyusui tetapi diganti dengan pengganti ASI, sehingga peluang tadi dapat diperkecil hingga di bawah 5%).</p>
<p style="text-align: justify;">No. 3:<br />
Hubungan seksual penetratif biasa (soft) dengan pengidap HIV ternyata peluangnya hanya 0,1-1%.<br />
Tetapi jika salah satunya mengalami radang di kelamin misal karena infeksi menular seksual atau infeksi saluran kemih maka peluang tadi akan meningkat menjadi 10 kali lipatnya. Dan bila hubungan seksual terjadi hingga menimbulkan perlecetan, maka di saat itu juga sudah bisa terjadi penularan karena penularan sudah bisa terjadi lewat kontak darah dari luka kecil (mikroabrasi/mikrolaserasi). Satu hal lagi kemudian yang perlu diperhatikan juga adalah hubungan seksual sangat sulit dikontrol dan dikendalikan, jadi hubungan seksual berisiko bisa dilakukan berulang-ulang.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-medium wp-image-437" title="Slide5 PENULARAN SAAT INI" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/12/Slide5-PENULARAN-SAAT-INI-300x225.jpg" alt="Slide5 PENULARAN SAAT INI" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gambar Slide Edukasi 5: Cara Penularan HIV Tertinggi Saat Ini</strong><br />
Peluang penularan per satu kali kontak dengan jumlah kasus yang terjadi saat ini jika dilihat dari cara penularan ternyata mengalami komposisi yang berbeda, tentu saja masuk akal karena menyangkut faktor pengendalian yang telah dapat dilakukan. Sebagai contoh, penularan lewat tranfusi darah walaupun peluangnya paling tinggi tetapi kenyataannya kejadiannya nol, karena penularan lewat tranfusi darah sudah bisa dikendalikan lewat proses <em>screening</em> darah donor terlebih dahulu, jika darah yang di<em>screening</em> mengandung HIV maka tidak akan digunakan untuk tranfusi darah. Sebaliknya, hubungan seksual walaupun peluangnya kecil per kontak, tetapi karena sungguh sulit melakukan kontrol terhadap hubungan seks yang tidak aman atau seks berisiko (bisa terjadi berulang-ulang) maka kejadian penularannya menjadi tinggi. Yang dimaksud dengan hubungan seksual berisiko atau tidak aman adalah berhubungan seksual berganti-ganti pasangan atau berhubungan seksual dengan partner yang HIV tanpa menggunakan proteksi (kondom).</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai dengan  September 2009, urutan aktivitas tertinggi-terendah penularan HIV di Indonesia adalah:<br />
1. Hubungan seksual berisiko (9793 kasus).<br />
2. Narkoba suntik/IDU (7506 kasus).<br />
3. Perinatal/dari ibu ke bayi (461 kasus).</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-medium wp-image-438" title="Slide6 ADD" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/12/Slide6-ADD-300x225.jpg" alt="Slide6 ADD" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gambar Slide Edukasi 6: Tambahan.</strong><br />
Saat ini sudah banyak bayi dan ibu rumah tangga yang terkena HIV. Banyak yang tergolong Ibu rumah tangga yang setia dan tidak pernah menggunakan narkoba, tentu saja termasuk bayi nya. Ini bisa dimungkinkan karena Si Bapak yang membawa HIV ke dalam rumah. Si Bapak bisa tertular dari hubungan seksual di luar, atau lewat penggunaan narkoba suntikan. Inilah wajah epidemi HIV saat ini yang perlu direnungkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Karenanya beberapa hal lagi sangat perlu diperhatikan. Bahwa orang yang terinfeksi HIV bisa terlihat sehat bahkan tidak tahu dirinya terinfeksi tetapi sudah bisa menularkannya ke orang lain dan untuk mengetahuinya satu-satunya jalan dengan melakukan tes darah (Tes HIV) melalui proses VCT (<em>voluntary counseling and testing</em>). Dalam waktu dekat akan dilakukan modifikasi dengan prosedur bernama PICT (<em>provider initiated counseling and testing). </em></p>
<p>Okanegara</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.okanegara.com/aids-corner/hiv-dan-dimensi-penularan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AIDS Corner; 5 Hal (Lagi) Yang Harus Diketahui</title>
		<link>http://www.okanegara.com/aids-corner/aids-corner-5-hal-lagi-yang-harus-diketahui-tentang-hivaids.html</link>
		<comments>http://www.okanegara.com/aids-corner/aids-corner-5-hal-lagi-yang-harus-diketahui-tentang-hivaids.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 10:41:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[AIDS Corner]]></category>
		<category><![CDATA[aids]]></category>
		<category><![CDATA[hiv]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[AIDS CORNER adalah rubrik tentang HIV AIDS dan Seksualitas yang sempat saya asuh di tabloid Magic Wave, tabloid khusus untuk komunitas surfer di Indonesia. Berikut ini arsip artikel untuk edisi pertama. Hi, pa bnr kalo bdn kita shat n bugar bs kena HIV? (Stev, 081805506xxx, 15 th, Legian) Aq mo tany bener ya obat HIV [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-210" title="aids" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/06/aids.jpg" alt="aids" width="207" height="219" />AIDS CORNER adalah rubrik tentang HIV AIDS dan Seksualitas yang sempat saya asuh di tabloid Magic Wave, tabloid khusus untuk komunitas surfer di Indonesia. Berikut ini arsip artikel untuk edisi pertama.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><em>Hi, pa bnr kalo bdn kita shat n bugar bs kena HIV? (Stev, 081805506xxx, 15 th, Legian)<br />
Aq mo tany bener ya obat HIV dah ketemu??? (Nana, 081338766xxx, 18 th, Dps)<br />
SeeApA Aja yG bS kN AIDS?apA 0rAL seXX amAn dari HIV? (Leo, 081805621xxx,17 th, Seminyak)</em></span></p>
<p style="text-align: justify;">AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) disebabkan oleh virus yang disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. HIV hanya bisa ditularkan lewat aktivitas yang mengakibatkan pertukaran darah, cairan kelamin maupun air susu. Selain itu tidak bisa menular. Jadi setiap orang bisa saja berisiko. Uniknya, ketika HIV masuk ke tubuh tidak langsung memunculkan gejala, setelah 5-10 tahun baru akan memperlihatkan gejala sakit, karena saking lemahnya daya tahan tubuh. Tetapi sebelum nampak sakit, sejak awal dia sudah bisa menularkan virusnya. So, cuma lewat tes darah baru bisa mengetahui seseorang mengidap HIV atau tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak kasusnya di Bali pertama kali diketahui tahun 1987, hingga September 2007 telah tercatat 1508 kasus. Jumlah perkiraan sesungguhnya yang ada sekitar 4000an kasus, yang 2700 dari penularan lewat seks, yang 1300 dari narkoba suntikan (putaw). Sebagian besar adalah dari kalangan anak muda. Jadi sekarang sudah saatnya remaja, para grommet &amp; surfer untuk memahami AIDS dengan lebih cerdas.</p>
<p align="left">Nah, ini lima hal lagi yang harus diketahui tentang HIV/AIDS.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Masih Saja Ada Remaja Yang Suka Gonta-ganti Partner Seks Dengan Percaya Diri Bilang Kalau Dia Tidak Mungkin Kena HIV</strong><br />
Banyak yang percaya bahwa selama badan sehat, rajin olah raga, rajin fitness dan selalu minum vitamin tidak akan kena masalah jika gonta-ganti pacar, hingga seringkali akhirnya melakukan hubungan seks tanpa kondom. Kenapa berani tanpa kondom, karena dilihat partner seksnya juga bersih dan jauh dari kesan berpenyakit. Kalau tidak yakin, sebagian mencoba minum antibiotik sembarangan yang dianggap bisa mencegah IMS (Infeksi Menular Seksual). Tapi, apa ini semua benar? Tentu saja salah besar.<br />
Fakta: Siapa yang bisa memastikan seseorang positif HIV tanpa melalui tes darah? Ingat, selama 5-10 tahun pertama HIV tidak memperlihatkan gejala apapun. Jadi tetaplah setia dengan pasangan, atau pakai kondom bila sering melakukan aktivitas berganti pasangan seksual. Antibiotik hanya bisa diminum atas petunjuk dokter dan bukan untuk mencegah HIV.<span id="more-207"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. HIV Tidak Pilih-Pilih Orang</strong><br />
Sejak kemunculannya diketahui dunia 26 tahun lalu, pandangan orang termasuk para remaja sampai hari ini masih saja sering keliru. Mereka masih percaya hanya kelompok-kelompok tertentu saja yang bisa mengidap HIV/AIDS. Remaja menganggap hanya kalangan gay, pecandu putaw dan pekerja seks saja yang dapat tertular. Tapi, tentu saja ini cuma mitos.<br />
Fakta: Setiap orang berpotensi terinfeksi HIV. Baik itu orang tua, anak muda bahkan anak kecil, laki-laki maupun perempuan, kaya dan miskin, gelandangan atau para surfer sekalipun. HIV dapat menginfeksi siapa saja yang tidak melakukan tindakan pencegahan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. Ternyata Remaja Lebih Takut Hamil Daripada HIV/AIDS</strong><br />
Banyak remaja percaya satu-satunya risiko yang paling ditakuti dari berhubungan seks tanpa kondom hanyalah kehamilan. Akibatnya untuk mencegah kehamilan, para remaja mencoba-coba dengan teknik oral seks atau melakukan sanggama terputus. Tentunya, sekali lagi jangan ikuti pemikiran ini.<br />
Fakta: Sayangnya, ada banyak hal yang mestinya harus lebih ditakuti remaja. Antara lain adalah risiko terkena IMS. Jenis IMS seperti Herpes, Sifilis, termasuk HIV seharusnya lebih menjadi perhatian remaja ketimbang sekadar hamil di luar nikah. Sebab, sekali terkena, mereka akan menderita sepanjang hidup.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4. “Blow Job” Tidak Seaman Yang Kamu Pikirkan</strong><br />
Karena pengaruh bacaan dan video porno, aktivitas oral seks makin sering dilakukan. Banyak remaja percaya bahwa oral seks pasti aman. Sebab, para remaja berpikir bisa terbebas dari risiko hamil dan tertular penyakit. Sayangnya, ini juga mitos.<br />
Fakta: Oral seks tidak seaman yang remaja pikirkan. Banyak penelitian menunjukkan, pada mereka yang tertular HIV, konsentrasi virus HIV baik di cairan sperma maupun cairan vagina juga tinggi. HIV bisa masuk melalui aliran darah di selaput lendir rongga mulut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>5. Tentu Saja HIV Belum Bisa Disembuhkan</strong><br />
Obat ARV (Anti Retroviral) termutakhir telah berhasil memangkas tingkat kematian akibat AIDS hingga 80%. Obat-obatan ini juga kini lebih mudah dikonsumsi daripada sebelumnya. Banyak yang percaya bahwa ARV adalah segala-galanya. Tentu saja ini perlu dipikirkan kembali dengan secermat-cermatnya, karena tidaklah sesederhana itu.<br />
Fakta: Mereka yang terinfeksi HIV sesungguhnya dapat hidup lebih lama, namun ARV dapat mengakibatkan efek samping, harganya masih mahal, dan harus dikonsumsi setiap hari seumur hidup. Apabila kelewatan terlalu banyak dosis obat, HIV dapat menjadi kebal. Dan sayangnya, meski menjalani perawatan medis, seorang pengidap HIV belum bisa sembuh total. Jadi bukan ARV yang segala-galanya, tetapi upaya pencegahan diri tetap yang nomer satu.</p>
<p style="text-align: justify;">Well, buat para remaja, sebisa mungkin jangan dulu berhubungan seksual, atau tetap setia dengan pasangannya. Buat yang memilih punya pasangan banyak dan berganti-ganti pastikan selalu menggunakan kondom. Jangan pernah juga menggunakan narkoba apapun alasannya. Then, cari tahu fakta-fakta tentang AIDS yang benar dan buang jauh-jauh mitos-mitos yang menyesatkan. So, Keep The Promise, Stop AIDS!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.okanegara.com/aids-corner/aids-corner-5-hal-lagi-yang-harus-diketahui-tentang-hivaids.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

