<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Oka Negara &#187; Wonderful Life</title>
	<atom:link href="http://www.okanegara.com/category/wonderful-life/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.okanegara.com</link>
	<description>sexuality.reproductive health.youth.life.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 May 2010 07:41:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Teringat Kembali: &#8220;Untuk Ketut&#8221;</title>
		<link>http://www.okanegara.com/wonderful-life/teringat-kembali-untuk-ketut.html</link>
		<comments>http://www.okanegara.com/wonderful-life/teringat-kembali-untuk-ketut.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 04:13:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[AIDS Corner]]></category>
		<category><![CDATA[Wonderful Life]]></category>
		<category><![CDATA[aids]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[hiv]]></category>
		<category><![CDATA[kid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[Suasana hati saya kembali mengingat sebuah untaian kata yang sempat saya tulis kira-kira setahun lebih lalu. Hari ini kembali saya bertemu dengan seorang anak. Masih sangat muda. Terinfeksi HIV.  Dan saya teringat kembali. Letih. Letih sekali. Kaki ini hampir mati rasa. Tak kuat lagi melangkah. Tapi ku tak boleh berhenti. Berhenti berarti pecundang. Karena ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-444" title="kid hiv" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2010/01/kid-hiv-200x300.jpg" alt="kid hiv" width="200" height="300" />Suasana hati saya kembali mengingat sebuah untaian kata yang sempat saya tulis kira-kira setahun lebih lalu. Hari ini kembali saya bertemu dengan seorang anak. Masih sangat muda. Terinfeksi HIV.  Dan saya teringat kembali.</p>
<p>Letih.<br />
Letih sekali.<br />
Kaki ini hampir mati rasa.<br />
Tak kuat lagi melangkah.<br />
Tapi ku tak boleh berhenti.<br />
Berhenti berarti pecundang.<br />
Karena ada yang lebih letih.<br />
Anak-anak itu.<br />
Lebam dan radang tengah terjadi.<br />
Nafas tidak lagi segar.<br />
Darahpun kini berlumur mahluk asing.<br />
Mahluk yang tidak diharap hadir.<br />
Si virus itu.<br />
Yang telah merenggut orang yang disayangi.<br />
Hari ini, mahluk itu masih menjadi sahabat.<br />
Hari ini, mereka masih bermain bersama.<br />
Esok hari, tidak akan lagi sama.<br />
Virus licik itu akan merubah segalanya.<br />
Ketut, ini kubawakan buku tulis.<br />
Buku buatmu menulis.<br />
Tulislah semua.<br />
Tentang hari yang masih indah.</p>
<p><strong><em>“untuk ketut”</em></strong><br />
by okanegara, 1 Desember 2008</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk semua anak-anak yang ditinggal orangtuanya, anak-anak yang terdampak oleh HIV AIDS. Kepedulian adalah kata yang dinanti di jaman ini bagi segelintir orang. Sebuah buku tulis dan buku bacaan bagi banyak orang adalah hal biasa. Tetapi tidak bagi mereka, anak-anak yatim piatu yang tidak lagi punya sandaran harta. Sekali lagi ini bukan tentang harga, tetapi tentang kepedulian. Kita bisa berbagi apa saja yang dibutuhkan anak-anak ini. Bagi sebagian orang bisa jadi kecil, tetapi itu bisa berarti banyak untuk yang lain. Tidak perlu menunggu sayap itu tumbuh untuk menjadi malaikat. Semua orang bisa menjadi malaikat bagi orang lain.</p>
<p>foto: www.zipthumbs.com/wow/HIV.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.okanegara.com/wonderful-life/teringat-kembali-untuk-ketut.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari AIDS Lagi. Lagi-lagi Masih Banyak Yang Perlu Dikerjakan.</title>
		<link>http://www.okanegara.com/youth-world/hari-aids-lagi-lagi-lagi-masih-banyak-yang-perlu-dikerjakan.html</link>
		<comments>http://www.okanegara.com/youth-world/hari-aids-lagi-lagi-lagi-masih-banyak-yang-perlu-dikerjakan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 07:42:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[AIDS Corner]]></category>
		<category><![CDATA[Wonderful Life]]></category>
		<category><![CDATA[Youth World]]></category>
		<category><![CDATA[aids]]></category>
		<category><![CDATA[world aids day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[Sejak pagi tadi terlihat banyak siswa sekolah, aktivis LSM dan mereka yang mencoba peduli dengan permasalahan HIV AIDS turun ke jalan. Hari ini 1 Desember adalah saat orang-orang di berbagai belahan dunia ikut merayakan World AIDS Day atau Hari AIDS Sedunia. Bagi yang sudah pernah mengikuti atau mengetahuinya, tentu saja sudah sangat lekat dengan maraknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-430" title="has" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/12/has-300x192.jpg" alt="has" width="300" height="192" />Sejak pagi tadi terlihat banyak siswa sekolah, aktivis LSM dan mereka yang mencoba peduli dengan permasalahan HIV AIDS turun ke jalan. Hari ini 1 Desember adalah saat orang-orang di berbagai belahan dunia ikut merayakan <a href="http://www.worldaidsday.org"><em>World AIDS Day</em></a> atau Hari AIDS Sedunia. Bagi yang sudah pernah mengikuti atau mengetahuinya, tentu saja sudah sangat lekat dengan maraknya pita merah, lambang kepedulian terhadap HIV AIDS yang sering kali menjadi ikon perayaan Hari AIDS Sedunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Di dunia terdapat sekitar 40 juta orang hidup dengan HIV dalam darahnya, dan diperkirakan setiap harinya 14.000 orang terinfeksi HIV. Itu artinya dalam setiap enam detik terdapat penambahan satu kasus baru. Pengidap HIV AIDS di Indonesia hingga akhir September lalu mencapai 18.442 orang tersebar di 32 propinsi dan 300 kabupaten/kota dengan rasio 3:1 antara laki-laki dan perempuan (berdasarkan data yang dikeluarkan Dirjen P2PL Departemen Kesehatan RI).  Kalau ditelusuri rata-ratanya adalah 8,15 per 100.000 penduduk jika memakai jumlah penyebut dari jumlah penduduk berdasarkan data BPS 2006. Secara kumulatif sejak ditemukan pertama kali kasus AIDS di Bali pada tahun 1987, cara penularannya melalui aktivitas seksual heteroseksual sebanyak 49,7%, IDU (<em>Injecting Drug User</em>) atau pengguna narkotika suntikan sebanyak 40,7%, lalu penularan lewat kasus laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki sebanyak 3,4% berdasarkan perilaku berisiko.  Dari usia, yang terinfeksi pada kelompok usia 20-29 sebanyak 49,57%, disusul kelompok umur 30-39 tahun sebanyak 29,84% dan kelompok 40-49 tahun sebanyak 8,71%. Terlihat jelas usia muda dan produktif adalah kelompok utama yang tertular HIV saat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya sudah banyak kemajuan terjadi. Jauh dari yang dipikirkan dan diduga sebelumnya. Bali sebagai salah satu contoh propinsi yang cukup aktif melakukan kegiatan penanggulangan secara bersinergi, saat ini bisa mulai perlahan mengurangi laju pertambahan kasus baru HIV bila dibandingkan dengan angka nasional. Dari yang di awal-awal kemunculannya selalu menempatkan Bali di tiga besar jumlah kumulatif kasus  HIV AIDS terbanyak di Indonesia, saat ini Bali sudah berada di tempat kelima. Urutan sepuluh besar jumlah kasusnya berdasarkan propinsi di Indonesia saat ini adalah Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Papua, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sumatra Utara, Riau, dan Kepulauan Riau.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Bali, penularan HIV di lembaga pemasyarakatan, yang sebelumnya sempat mengkhawatirkan karena maraknya penggunaan narkoba suntikan bersama-sama, saat ini juga sudah makin terkendali. Peningkatan kasus-kasus baru dari kalangan pengguna narkoba suntikan semakin menurun drastis. Bisa jadi ini bukti bahwa penanggulangan berbasis komunitas dan kelompok khusus melalui pendampingan sebaya lewat program <em>Harm Reduction</em> cukup berhasil. <em>Harm reduction</em> adalah upaya-upaya yang ditujukan khusus buat kalangan berperilaku berisiko untuk mengurangi dampak buruk yaitu mencegah tertular dari HIV, misalnya dengan pembagian jarum suntik steril kepada pengguna narkoba suntikan.  Atau program rumatan <em>methadone</em> dengan pemberian oral (diminum), untuk menggantikan heroin yang disuntikkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya, masalah masih tetap ada. Keberhasilan program <em>Harm Reduction</em> masih belum diikuti oleh keberhasilan dalam menekan kasus penularan HIV dari hubungan seksual yang tidak aman. Estimasi yang dibuat berdasarkan kalkulasi epidemiologis di Bali bisa banyak berbicara dalam memetakan kecenderungan terkini penularannya. Peningkatan estimasi pengidap HIV dan AIDS yang di awal tahun 2000an masih disebut dalam bilangan 3000 kasus (dengan rincian 1900 dari kasus-kasus seksual dan 1100 dari kasus-kasus narkoba suntik)  menjadi 4000 kasus di tahun 2004 (dengan rincian 2700 dari hubungan seksual tidak aman dan 1300 dari kasus-kasus narkoba suntik). Terlihat estimasi peningkatan yang cukup berarti pada kasus-kasus baru infeksi HIV lewat cara-cara hubungan seksual yang tidak aman. Sedangkan peningkatan kasus dari penggunaan narkoba suntikan tidaklah terlalu cepat. Peningkatan kasus-kasus baru dari hubungan seksual sangat dimungkinkan mengingat pencegahan dan penanggulangan dari cara penularan yang satu ini tidaklah mudah, karena hubungan seksual memang cukup susah untuk dikontrol dan dikendalikan mengingat sifatnya yang sangat personal dan memerlukan kesadaran pribadi yang kuat dan pemahaman yang konsisten tentang risiko hubungan seksual yang tidak aman.</p>
<p style="text-align: justify;">Akses masyarakat yang membutuhkan alat kontrasepsi juga masih sangat terbatas. Beberapa macam model kampanye telah dilakukan oleh berbagai lembaga, baik LSM maupun juga pihak swasta untuk mensosialisasikan penggunaan kondom, misalnya. Tetapi angka penggunaan kondom masih rendah, yaitu hanya sekitar 20-30%. Tentu saja ini masih sangat jauh dari yang ingin dicapai dalam Komitmen Sanur. Keberadaan femidom atau kondom perempuan juga masih terbatas dan belum banyak yang mengetahui. Padahal fungsi kondom tidak lagi hanya sebatas alat kontrasepsi, tetapi justru sebagai proteksi dan pencegahan terhadap infeksi menular seksual, termasuk pencegahan HIV di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kasus-kasus infeksi HIV AIDS juga bisa tampil dalam bentuk baju yang lain dengan fenomena sosial yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Kondisi lembaga pemasyarakatan  yang sesak, berjejal dengan banyaknya narapidana membuat mereka yang mengidap HIV menjadi tidak leluasa untuk bisa sekedar menjaga kesehatan. Kejadian Tuberkulosis akhirnya menjadi sering muncul sebelum yang bersangkutan masuk fase AIDS. Dan kemunculan Tuberkulosis ini justru akhirnya bisa memperburuk daya tahan tubuh pengidap HIV.  Tuberkulosis adalah infeksi oportunistik terbanyak dari puluhan infeksi oportunistik yang menyebabkan pengidap AIDS meninggal.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya permasalahan lainnya: resistensi HIV terhadap obat ARV. Obat yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup pengidap HIV dengan menekan laju replikasi HIV dalam tubuh. Agar terapi ARV berjalan optimal,  pengidap HIV harusnya patuh minum obat, selama seumur hidup. Jika tidak disiplin dalam menepati waktu minum atau lupa minum satu hari, maka ARV tidak akan berfungsi optimal dalam menekan virus. Malah, HIV di dalam tubuh menjadi kebal terhadap ARV. Resistensi juga bisa terjadi jika seseorang terinfeksi virus yang sudah resisten. Repotnya, hingga saat ini Indonesia belum memiliki fasilitas memadai untuk melakukan tes resistensi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, banyak anak-anak tidak berdosa yang juga terdampak HIV. Sebagian dari mereka sudah terinfeksi HIV sejak lahir. Sampai dengan tahun  2008 lalu, misalnya terdapat 23 anak-anak yang menjadi yatim piatu karena orang tua meninggal lebih dulu di daerah Gerokgak, Buleleng. Jadi problema HIV AIDS tidak semata-mata menyasar kalangan yang berisiko tinggi seperti mereka yang gonta-ganti pasangan seksual tanpa menggunakan kondom, atau mereka yang menggunakan narkoba suntikan bersama-sama, tetapi justru sudah memasuki wilayah rumah tangga. Anak-anak dan ibunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika hal-hal seperti ini masih juga belum bisa menyadarkan masyarakat untuk ikut peduli dan mau memahami HIV AIDS dengan lebih baik, jangan salah jika apa yang akan dialami Bali, kira-kira akan bisa terjadi sesuai dengan skenario berikut (dengan perhitungan masih dengan estimasi 3000 kasus): sekitar 50% dari mereka yang saat ini mengidap HIV dalam kurun waktu 5 tahun akan memasuki fase AIDS. Kemungkinan sekali separuh dari pengidap AIDS itu yaitu sekitar 750 orang akan membutuhkan perawatan. Tempat tidur yang dimiliki oleh RSUP Sanglah yang merupakan pusat pelayanan kesehatan rujukan saja hanya ada sekitar 800an. Bisa jadi sebagian besarnya akan dihuni oleh pengidap AIDS. Belum lagi disusul gelombang penderita baru yang semakin banyak. Kebutuhan akan dokter, perawat, obat, alat dan sebagainya akan juga meningkat. Bahwa di Bali akan berlangsung “ngaben” masal bisa saja mendekati kenyataan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan menakuti. Tapi itu semua bisa saja benar-benar terjadi. Semua bisa terjadi ketika upaya edukasi masyarakat secara menyeluruh belum juga tuntas sampai ke seluruh lapisan masyarakat. Ini mengakibatkan stigma dan diskriminasi masih terjadi. Upaya mengikis stigma sering kali juga belum bisa dibahasakan dengan baik dan seragam oleh berbagai kalangan. Malah hal seperti ini masih terjadi di tingkat pemahaman internasional sekalipun. Sebuah kampanye agresif dan intimidatif juga bisa terjadi di negara-negara maju seperti yang terjadi dalam kampanye controversial <a href="http://okanegara.com/sexuality-blitz/367.html"><em>“AIDS is Mass Murderer”</em></a> yang malah semakin memunculkan stigma AIDS yang menyeramkan. Padahal kenyataannya tidaklah lagi menakutkan.  Harusnya HIV AIDS bisa tampil lebih <em>soft</em> tanpa muatan stigma. Layaknya bagaimana keberadaan Hepatitis C, Hepatitis B yang jauh dari stigma. Bahkan sejak ampuhnya ARV dalam menekan laju HIV dalam tubuh (walaupun belum bisa disembuhkan), sesungguhnya infeksi HIV sudah bisa disejajarkan dengan berbagai penyakit kronis lainnya seperti diabetes, penyakit jantung maupun hipertensi, yang mana pengidap penyakit-penyakit kronis ini juga bisa berakibat fatal bila yang bersangkutan tidak memelihara kesehatan, berpola hidup sembarang dan tidak teratur mengkonsumsi obat.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbagai kampanye, bentuk-bentuk dukungan sebaya dan edukasi tetaplah harus bisa terus digiatkan, tentu saja dengan metode-metode yang masif progresif yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat lewat cara-cara yang efektif. Tidak hanya asal dan sekedar seremonial. Sangat disayangkan kalau upaya edukasi dan diseminasi informasi ke masyarakat ditunggangi dengan kegiatan-kegiatan kampanye personal demi popularitas atau mengejar jabatan dan kedudukan semata. Kenyataannya ini masih saja terjadi. Keberadaan organisasi-organisasi dengan segmen khusus harusnya juga bisa selalu didukung. Sebagi contoh, kehadiran kelompok siswa peduli AIDS di sekolah, misalnya, harusnya bisa ikut membangkitkan motivasi dan peluang yang lebih baik untuk selalu memberikan dukungan dan edukasi di tingkat lembaga pendidikan. Tentu saja rentetan berikutnya, pihak sekolah dan para guru dituntut untuk bisa selalu melengkapi diri dengan pengetahuan yang lebih baik dan <em>up to date</em> serta kemampuan yang baik dalam mentransfer informasi HIV AIDS yang benar buat siswanya. Karena sesungguhnya ini memiliki nilai strategis untuk memberikan akses informasi, rujukan pelayanan dan pemberdayaan anak dan remaja yang merupakan siswa di sekolah. Ini juga kesempatan yang strategis untuk mulai memberikan pemahaman yang benar tentang hak asasi dan hak-hak remaja, hingga bagaimana memberdayakan remaja dalam mengakses informasi dan pelayanan secara luas.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga perayaan Hari AIDS Sedunia kali ini tidak lagi menjadi seremonial belaka. Masih banyak hal yang menjadi pekerjaan rumah buat semuanya. Bukan hanya buat dokter, aktivis LSM, atau pemerintah saja sesungguhnya. Tapi semuanya. Termasuk masyarakat. Justru masyarakat yang harus lebih banyak berperan kondusif. Sudah saatnya memposisikan permasalahan HIV AIDS sebagai permasalahan bersama. Membiarkan mitos masih bertumbuh subur dan menganggap sepele hingga antipati terhadap upaya-upaya kepedulian terhadap fenomena HIV AIDS adalah juga bentuk tindakan tidak bertanggung jawab. Mempekerjakan pekerja seks tanpa mempedulikan nilai-nilai perilaku seks yang aman, melakukan diskriminasi dalam pelayanan kesehatan terhadap pengidap HIV dan AIDS,  tidak membekali anak dengan pengetahuan yang cukup tentang seksualitasnya, tidak memberikan edukasi yang memadai di sekolah tentang kesehatan reproduksi dan seksual adalah beberapa contoh pembiaran dan ketidak pedulian yang akan berakibat fatal buat masa depan generasi muda. Yang berarti pula sebuah upaya yang sering kali tanpa disadari merupakan sebuah upaya penghancuran bangsa. Berlebihan? Saya kira tidak. Jika kita tidak berbuat sesuatu bersama, ini semua hanya menunggu waktu. Karenanya, mari tetap peduli. Sekecil apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat Hari AIDS Se-Dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Okanegara, kampus sudirman, 1 Desember 2009, 12.00 Wita.</em></p>
<h6 style="text-align: justify;">*gambar di atas dan beberapa foto-foto Hari AIDS Sedunia di Indonesia bisa dilihat di <a href="http://news.id.msn.com/photogallery.aspx?cp-documentid=3728091&amp;page=3">sini</a><em><br />
</em></h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.okanegara.com/youth-world/hari-aids-lagi-lagi-lagi-masih-banyak-yang-perlu-dikerjakan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BBC, Komunitas Muda Yang Tidak Sekedar Menulis, Tetapi Juga Berbagi.</title>
		<link>http://www.okanegara.com/youth-world/bbc-komunitas-muda-yang-tidak-sekedar-menulis-tetapi-juga-berbagi.html</link>
		<comments>http://www.okanegara.com/youth-world/bbc-komunitas-muda-yang-tidak-sekedar-menulis-tetapi-juga-berbagi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 06:31:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wonderful Life]]></category>
		<category><![CDATA[Youth World]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=419</guid>
		<description><![CDATA[Ini hanya sebuah renungan ringan. Menjadi blogger atau narablog itu gampang-gampang susah. Bermodalkan minat, komputer dan koneksi internet seorang blogger sesungguhnya telah tampil mengambil posisi sebagai sumber berita di ranah dunia maya yang tanpa batas. Apa saja, siapa saja, dimana saja bisa dilakukan selama ada minat, ide menulis dan koneksi internet. Informasi dan gagasan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-420" title="2 thn bbc" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/11/2-thn-bbc-300x214.jpg" alt="2 thn bbc" width="300" height="214" />Ini hanya sebuah renungan ringan. Menjadi blogger atau narablog itu gampang-gampang susah. Bermodalkan minat, komputer dan koneksi internet seorang blogger sesungguhnya telah tampil mengambil posisi sebagai sumber berita di ranah dunia maya yang tanpa batas. Apa saja, siapa saja, dimana saja bisa dilakukan selama ada minat, ide menulis dan koneksi internet. Informasi dan gagasan yang diposting ke dalam blog bisa menjadi bacaan baru yang bernilai lebih tajam menggantikan media konvensional. Tidak bisa dibantah, blog semakin lama semakin berkembang pesat. Paling tidak keadaan itu masih bertahan sebelum tampilnya facebook yang menyeruak menyita perhatian publik. Lewat blog, berbagai dinamika terjadi. Blog melesat menjadi sebuah kekuatan baru yang semakin menguat dan bisa jadi menakutkan bagi sebagian pihak. Bahkan beberapa bukti menyebutkan blog pun bisa mengubah dunia.<span id="more-419"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tidak bisa dihindari, dari hal-hal yang bersifat personal, sering kali tumbuh kebutuhan dan kesadaran seminat untuk bisa berinteraksi bersama. Bukan online lagi. Tetapi kebersamaan yang sesungguhnya. Tentu saja akan bakal menarik bila para blogger dapat berkumpul, berdiskusi, bertukar ide secara langsung tanpa koneksi internet lagi. Kembali ke asal. Hal ini juga yang menjadi kesadaran dari sebuah komunitas blogger bernama <a href="http://www.baliblogger.org">BBC (Bali Blogger Community).</a> Dari kehadiran personal di dunia maya, berlanjut menjalin tali kebersamaan di dunia maya bersama. Kerinduan akan interaksi langsung berbuah pertemuan (kopdar) masal untuk membentuk sebuah komunitas. Itu semua terjadi dua tahun lalu, di saat blog sedang beranjak popular. Sejak saat itu <a href="http://www.baliblogger.org">BBC</a> sanggup menggeliat dari sekedar berinteraksi menjadi sebuah komunitas cair dengan berbagai profesi di dalamnya yang sanggup berbuat sesuatu buat orang lain. Sebutannya: berbagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengatasnamakan Bali, bukan berarti menjadikan <a href="http://www.baliblogger.org">BBC</a> tersegmentasi dan sektarian. Tidak sama sekali. Nama Bali hanya menjadi benang penghubung dan “ikatan batin” keberadaan komunitas blogger ini. Orang Bali, mereka yang tinggal di Bali, atau sekedar peduli Bali bisa bergabung dan ikut berbagi. Tetap dengan senjata utama blog dan tulisan.</p>
<p style="text-align: justify;">Uniknya walaupun tampil sebagai komunitas cair, semua masih bisa dipertahankan dan dijalankan dengan berbagai suka duka. Hingga hari ini. Berbekal slogan <strong><em>“Mai Ngeblog Apang Sing Belog”</em></strong>, <a href="http://www.baliblogger.org">BBC</a> bisa meningkatkan jati diri tidak hanya sekedar sekumpulan orang yang mengelola blog dengan berbagai kepentingan dan alasan semata. Tidak hanya itu. Tetapi sudah melampauinya. Banyak hal sudah dilakukan. Tanpa banyak perhitungan semua bisa dijalankan dengan penuh dinamika. Ada yang sukses, ada yang setengah jalan, juga ada yang batal. Tetapi hal yang dinamis itulah yang membuat segalanya menjadi hidup. Manusia pun bisa bernafas karena ada upaya menarik nafas dan mengeluarkan nafas. Dua hal yang berlawanan. Gerakan naik turun dan maju mundur dalam kontak seksual bisa berbuah kehidupan baru. Kedinamisan adalah kunci hidup sebuah komunitas selagi adaptasi dan toleransi bisa tetap dijaga di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua tahun sudah berjalan. <a href="http://www.baliblogger.org">BBC</a> tidak sekedar menulis. Tetapi juga berbagi. Tidak sekedar kopdar. Tetapi memberi. Walaupun hanya sekedar kunjungan, tetapi semua memiliki sarat arti. Tidak hanya buat yang dikunjungi tetapi juga buat para blogger <a href="http://www.baliblogger.org">BBC</a>. Mulai dari kunjungan ke mereka yang kurang beruntung karena gangguan jiwa, pelayanan kesehatan di tempat jauh di sela-sela liburan bersama, memberikan setetes darah buat yang membutuhkan, berbagi bersama para lanjut usia yang dipinggirkan sanak keluarga, berbagi bersama mereka para <em>diffable</em> yang memiliki kemampuan berbeda dengan orang kebanyakan,  hingga mengedukasi masyarakat agar lebih memahami penggunaan teknologi informasi. Keliling maupun lewat udara. Sering kali tidak bisa disangka <a href="http://www.baliblogger.org">BBC</a> sanggup menjalaninya. Menjalani semuanya tanpa banyak beban. Dijalani sambil bersenang diri bersama melepas lelah demi berbagi. Tanpa terasa hormon kortisol di otak sesungguhnya bisa mengalami penurunan, berganti dengan geliat adrenalin dan pelepasan endorfin yang membawa suasana gembira.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat ulang tahun yang ke dua buat <a href="http://www.baliblogger.org">BBC</a>. Sudah selayaknya sebuah komunitas mampu berbagi dan berbuat sesuatu yang sama seperti ini. Bukan lagi buat diri sendiri. Seseorang baru bernilai bukanlah dari apa yang didapat dan dimilikinya, tetapi justru dari apa yang diberikannya buat orang lain. Berbagi dan berbuat sesuatu. Dan <a href="http://www.baliblogger.org">BBC</a> telah sanggup melakukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaannya, sanggupkah ini semua dipertahankan bersama? Tiada yang lebih indah dari sebuah kebersamaan. Sameton <a href="http://www.baliblogger.org">BBC</a>, silakan menjawabnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>invitation juga bisa dilihat di link fb: <a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=3936220&amp;o=all&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=217278644895&amp;aid=-1&amp;id=620876321&amp;oid=217278644895#/event.php?eid=217278644895">ini</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.okanegara.com/youth-world/bbc-komunitas-muda-yang-tidak-sekedar-menulis-tetapi-juga-berbagi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senangnya Bisa Disukai; Apakah Anda Mempunyai LQ Yang Tinggi?</title>
		<link>http://www.okanegara.com/wonderful-life/senangnya-bisa-disukai-apakah-anda-sudah-mempunyai-lq-yang-tinggi.html</link>
		<comments>http://www.okanegara.com/wonderful-life/senangnya-bisa-disukai-apakah-anda-sudah-mempunyai-lq-yang-tinggi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Aug 2009 07:24:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wonderful Life]]></category>
		<category><![CDATA[LQ]]></category>
		<category><![CDATA[relationship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[Postingan ini untuk berbagi, buat pembelajaran untuk bisa menilai apakah selama ini sudah menjadi sahabat, relasi, sekaligus pemimpin yang disukai. Ini sudah dicobakan di kelas diskusi remaja. IQ, SQ dan EQ mungkin sudah kenal. IQ itu Intelligence Quotient, sebuah ukuran standarisasi kecerdasan seseorang. Beberapa acuan baku yang bisa diukur sudah sering digunakan. Sedangkan SQ itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<div class="snap_preview" style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;"><img class="alignleft size-medium wp-image-303" title="likeabliity2" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/07/likeabliity2-300x225.jpg" alt="likeabliity2" width="300" height="225" />Postingan ini untuk berbagi, buat pembelajaran untuk bisa menilai apakah selama ini sudah menjadi sahabat, relasi, sekaligus pemimpin yang disukai. Ini sudah dicobakan di kelas diskusi remaja. </span><strong>IQ, SQ dan EQ</strong> mungkin sudah kenal. IQ itu Intelligence Quotient, sebuah ukuran standarisasi kecerdasan seseorang. Beberapa acuan baku yang bisa diukur sudah sering digunakan. Sedangkan SQ itu Spiritual Quotient, mungkin maksudnya standar ukuran buat tingkat spiritual seseorang. Dan EQ adalah Emotional Quotient, yang ini untuk menentukan standar emosi. Saya tidak pernah benar-benar paham dengan dua hal ini walau beberapa buku pernah saya baca. Karena masing-masing buku membuat standar sendiri-sendiri. Tapi paling tidak sebagian besar orang yang mempelajarinya sudah mengerti garis besar tujuan pembuatan standar-standar ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Belakangan banyak muncul standar atau quotient-quotient yang lain, salah satunya;<strong> Likeability Quotient (LQ).</strong> Yang punya label sama juga adalah Leadership Quotient. Nah, LQ untuk Likeability Quotient ini masih menjadi pembicaraan dan diskusi terbatas. Belum ada acuan dan standar bakunya. Tetapi ternyata memang ada kebutuhan untuk dibuatkan standarnya. Dalam kampanye-kampanye Hillary dan Obama pun ditanyakan siapa yang LQ nya lebih tinggi di antara mereka. Dalam praktek-praktek kelas konsultasi khusus, beberapa hal yang direkomendasikan untuk meningkatkan LQ terbukti bisa juga meningkatkan kesuksesan seseorang. Beberapa buku sempat menyebutkan hal ini. Salah satunya buku pemikiran praktis Louis P. Frankel, PhD berjudul ‘See Jane Lead, 99 Ways for Women to Take Charge at Work’ yang ditujukan sebagai buku psikopop untuk pemberdayaan perempuan. Di sini muncul pembahasan LQ yang telah disederhanakan agar mudah menilai diri sendiri. Ternyata ini bukan hanya buat perempuan, tetapi sangat cocok juga buat remaja dan semua orang. LQ juga bisa dipakai untuk menilai kualitas hubungan dengan pasangan.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/06/see-jane-lead.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-171" src="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/06/see-jane-lead.jpg?w=131&amp;h=169" alt="" width="131" height="169" /></a>Definisi Likeability Quotient (LQ) menurut JPL Communications adalah level kegembiraan dan kebahagiaan yang dirasakan saat bersama dan berada di sebuah relasi persahabatan. Orang yang memiliki LQ tinggi memiliki kesempatan lebih baik untuk mendapatkan kesuksesan di pekerjaan, kebahagiaan di rumah dan juga di aktivitas yang lain. Bisa diterima dan disukai di lingkungan persahabatan dan dalam kualitas yang penuh nilai sebenarnya jadi dambaan mayoritas orang. Ada beberapa hal penting yang bisa dipertimbangkan untuk bisa membuat penilaian pada diri kita sendiri apakah selama ini sudah disukai oleh orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, dalam LQ versi buku Louis P. Frankel, PhD ini disebutkan seseorang akan mendapatkan nilai yang tinggi dalam LQ jika mampu:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">1. Membangun dan mempertahankan hubungan persahabatan yang bertahan lama<br />
2. Merespons dengan baik atas umpan balik yang disampaikan teman<br />
3. Menyelesaikan konflik dengan teman<br />
4. Menahan emosi dalam situasi yang tegang<br />
5. Dicari orang lain sebagai teman, orang kepercayaan atau bahkan sebagai penasehat<br />
6. Menghadiri acara sosial untuk membangun dan mempertahankan jaringan</span></p>
<p style="text-align: justify;">Bisa dicoba buat jawaban atas 6 hal tersebut terhadap diri sendiri. Jika makin banyak yang sudah mampu dijawab atau dikerjakan dalam hubungan persahabatan selama ini, makin tinggi nilai LQnya, yang berarti makin disukai dalam lingkungan persahabatan. Tentu ini modal untuk bisa berinteraksi dengan orang lain, sebagai teman, sahabat, relasi ataupun pemimpin. <strong>Dan tentu saja untuk menilai dan menjawabnya sangat diperkenankan untuk bisa meminta bantuan orang lain yang sangat mengenal kita</strong>. Ini untuk memperkuat penilaian. nah, bagi yang merasa masih kurang, ini saatnya mari kita tingkatkan. Silakan dicoba.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.okanegara.com/wonderful-life/senangnya-bisa-disukai-apakah-anda-sudah-mempunyai-lq-yang-tinggi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“The Rest of My Life”nya LTJ Membuat Saya Merenungi Hidup</title>
		<link>http://www.okanegara.com/wonderful-life/%e2%80%9cthe-rest-of-my-life%e2%80%9dnya-ltj-membuat-saya-merenungi-hidup.html</link>
		<comments>http://www.okanegara.com/wonderful-life/%e2%80%9cthe-rest-of-my-life%e2%80%9dnya-ltj-membuat-saya-merenungi-hidup.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 05:44:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wonderful Life]]></category>
		<category><![CDATA[less tahn jake]]></category>
		<category><![CDATA[music]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[It’s gonna kill me the rest of my life/Let me apologize while I’m still alive/I know it’s time to face/All of my past mistakes/It’s gonna kill me for the rest of my life Ternyata masih ada lagu yang membuat saya merinding waktu mendengarkan, melihat klip dan meresapi makna dalam di tiap kata liriknya. Di tengah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #999999;"><img class="alignleft size-medium wp-image-264" title="2008_01_16_lessthanjake" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/07/2008_01_16_lessthanjake-300x240.jpg" alt="2008_01_16_lessthanjake" width="300" height="240" />It’s gonna kill me the rest of my life/Let me apologize while I’m still alive/I know it’s time to face/All of my past mistakes/It’s gonna kill me for the rest of my life</span></p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata masih ada lagu yang membuat saya merinding waktu mendengarkan, melihat klip dan meresapi makna dalam di tiap kata liriknya. Di tengah gempuran musik-musik tanpa nutrisi dari banyak band hari ini yang cuma bisa menampilkan lirik itu-itu saja, perselingkuhan dan berbagai kisah sedih (cengeng?) yang sama sekali tidak membawa semangat dan arti buat hidup yang sesungguhnya. Yuk bangun..!! Hingga ke musik hip hop dan r n b yang sekarang semakin tidak bermakna dan tidak jelas liriknya, hujat-menghujat, seronok (contoh; e.g. <em><span style="color: #808080;">they`re very easy to say  bit**, mother f**ker, b**ty, b**bs, *ss, pu**y and some others like those</span></em>),  kasar, yah begitulah. Memang kebebasan ekspresi bolehlah, tapi yang seperti ini buat saya sudah pasti nggak akan masuk <em>playlist</em> saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, hari ini saya dapat kiriman <em>clipvideo</em>nya  <strong>Less Than Jake (LTJ) </strong>dari Tika. Kali ini yang lagunya <strong>The Rest of My Life</strong>. Keren sekali. LTJ ini band punk. Nyampur lah punk-ska-pop. Well, gini-gini waktu ngeband dulu pernah bawain lagu-lagu punk juga. Biasa, lagu-lagunya Green Day, hmm. Jadi masih bisa lah dengerin yang rada ada melodinya, melodic punk. It`s old story.</p>
<p style="text-align: justify;">Di lagu ini LTJ musiknya terdengar seperti cocktail yang buahnya macam-macam. Ada campuran rockabillynya Living End ketemu dengan mood nya 3 Doors Down plus Creed dan Collective Soul, ada sedikit Simple Plan, country rock nya Gin Blosom plus renyahnya Firehouse. Tapi sekarang bukan mau cerita tentang gerombolan LTJ yang dari Florida ini (<em>because u can find them on their </em><span style="color: #333333;"><a href="http://www.lessthanjake.com/">official website</a>, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Less_Than_Jake">wikipedia</a> or <a href="http://www.myspace.com/lessthanjake">their myspace</a></span><em> and browse everything about them by google</em>).</p>
<p style="text-align: justify;">Ini tentang lagunya. <strong>The Rest of My Life</strong>. Lebih tepat tentang videoklipnya. Sangat menyentuh. Sangat jarang sekarang ditemukan lagu dengan lirik tentang kehidupan, kebijaksanaan, atau paling tidak belajar menjadi lebih baik tanpa harus menggurui. Di video ini saya dapatkan. Video yang sangat menyentuh. Mengisahkan kisah hidup tiga pasang anak manusia. Sepasang suami istri, sepasang laki-laki yang saling tabrakan mobil dan kisah seorang polisi dengan <em>street whore</em> (pekerja seks jalanan). Ini saya coba ambil <em>screenshoot</em> dari video klipnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/05/rest.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-132" src="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/05/rest.jpg?w=500&amp;h=375" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dibuka dan ditutup oleh 2 <em>famous quotes</em> dari almarhum <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Alden_Nowlan">Andrew Alden Nowlan</a>, seorang satrawan dan jurnalis paling dikenang di Kanada dan Amerika Utara, yang secara eksplisit menyebutkan “<strong>jika seoranganak mulai menyadari bahwa orang dewasa bukan lagi orang yang sempurna di saat itu si anak sudah mulai beranjak dewasa, dan di saat dia sudah bisa memaafkan di saat itulah dia sudah dewasa.”</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Video dengan adegan yang awalnya banyak diperankan oleh anak-anak dengan <em>angel</em> pengambilan gambar yang bisa menggiring yang menonton benar-benar masuk ke dalam suasana cerita yang sangat dalam ini, menceritakan pertengkaran dan kekerasan hati diantara 2 orang yang terlibat kecelakaan mobil, juga penangkapan seorang pekerja seks jalanan oleh seorang polisi patroli dan pertengkaran sepasang suami istri. Dalam perenungan diri masing-masing mereka disadarkan bahwa seorang yang di mata mereka rendah, dimata mereka tidak mau mendengar dan berselisih dengan mereka pun sebenarnya adalah teman dan guru yang harusnya diberi maaf dan selayaknya diberi terima kasih karena kita juga belajar sesuatu dari mereka dan jangan sampai ini berlalu, tanpa makna dan kita menjadi menyesal seumur hidup karena maaf yang tidak terucapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Video ditutup dengan <em>quote</em> nya Nowlan yang menyebutkan “<strong> di saat seorang anak bisa memaafkan dirinya, saat itu kebijaksanaan telah muncul pada dirinya”</strong>. Dalam sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila dicermati dari liriknya  juga pas sekali. Lagu ini liriknya setelah dicari-cari dapat di <a href="http://www.sing365.com/music/lyric.nsf/Rest-Of-My-Life-lyrics-Less-Than-Jake/FF3553127FF5B9EA482571190010CE0C">sini</a>:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>The Rest of My Life </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>I felt asleep last Saturday</em><em><br />
</em><em> Underneath polluted skies</em><em><br />
</em><em> I walked alone in those Jersey nights</em><em><br />
</em><em> And I</em><em><br />
</em><em> Saw the board walk start to fall</em><em><br />
</em><em> The emptiness starts to drown</em><em><br />
</em><em> The quiet corners of this town tonight</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Late last night I made my plans</em><em><br />
</em><em> It was the only thing I felt I could do</em><em><br />
</em><em> Said goodbye to my best friend</em><em><br />
</em><em> Sometimes there’s no one left to tell you the truth</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>It’s gonna kill me the rest of my life</em><em><br />
</em><em> Let me apologize while I’m still alive</em><em><br />
</em><em> I know it’s time to face</em><em><br />
</em><em> All of my past mistakes</em><em><br />
</em><em> It’s gonna kill me for the rest of my life</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>This is my all time low</em><em><br />
</em><em> Somehow it feels so familiar</em><em><br />
</em><em> Somehow it seems so familiar</em><em><br />
</em><em> I feel like letting go</em><em><br />
</em><em> And every second that goes by</em><em><br />
</em><em> I’m screaming out for second tries</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Said goodbye to my best friend</em><em><br />
</em><em> Sometimes there’s no one left to tell me the truth</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>It’s gonna kill me the rest of my life</em><em><br />
</em><em> Let me apologize while I’m still alive</em><em><br />
</em><em> I know it’s time to face</em><em><br />
</em><em> All of my past mistakes</em><em><br />
</em><em> I’ve got to live with them the rest of my life</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>This is the mess I’ve made</em><em><br />
</em><em> These are the words I can’t erase</em><em><br />
</em><em> This is my life support</em><em><br />
</em><em> Shutting down</em><em><br />
</em><em> For the final time</em><em><br />
</em><em> And it twists like a blade</em><em><br />
</em><em> And kills me for the rest of my life</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>If you won’t forgive me the rest of my life</em><em><br />
</em><em> Let me apologize while I’m still alive</em><em><br />
</em><em> I know it’s time to face</em><em><br />
</em><em> All of my past mistakes</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>It’s gonna kill me for the rest of my life</em><em><br />
</em><em> It’s gonna kill me for the rest of my life [x2]</em></p>
<p style="text-align: justify;">Serasa disentak. Saya diingatkan lagi tentang perjalanan hidup. Banyak teman, ada yang datang dan ada juga yang pergi. Benar-benar pergi. Tanpa pernah kembali. Kemanapun dicari. Walau mereka tetap dekat di hati. Teman adalah motivator terbesar. Beberapa teman masa kecil dan masa lalu telah pergi. Dan sering kali saya belum sempat mengucapkan kata maaf ke mereka atas kesalahan apapun yang mungkin pernah saya buat. Walau kata maaf saja tidaklah cukup. Karena mereka juga guru terbaik buat hidup saya. Buat bisa memaknai hidup lebih baik, mengisi hidup dengan lebih sehat sehingga tangan-tangan kita pun bisa diberikan buat yang lebih membutuhkan. Saya percaya nafas dan hidup ini diberikan untuk menebus kesalahan kita yang lalu. Jika tidak memberinya makna dengan lebih baik, kita akan menyesalinya selama sisa hidup kita. <strong>Seseorang baru berarti bukan dari apa yang dimiliki dan dapatkan, tetapi dari apa yang dia berikan….</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ijinkan saya mengucapkan maaf buat siapapun yang pernah saya kecewakan dan atas segala kesalahan masa lalu saya. Ini waktunya kita bisa bangkit bersama menghadapi masa depan…….dengan lebih baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.okanegara.com/wonderful-life/%e2%80%9cthe-rest-of-my-life%e2%80%9dnya-ltj-membuat-saya-merenungi-hidup.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Puteri Duyung Bagaimana Caranya Kawin?”</title>
		<link>http://www.okanegara.com/sexuality-blitz/pertanyaan-anak-%e2%80%9cputeri-duyung-bagaimana-caranya-kawin%e2%80%9d-ini-cerita-tentang-puteri-duyung.html</link>
		<comments>http://www.okanegara.com/sexuality-blitz/pertanyaan-anak-%e2%80%9cputeri-duyung-bagaimana-caranya-kawin%e2%80%9d-ini-cerita-tentang-puteri-duyung.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 16:01:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sexuality Blitz]]></category>
		<category><![CDATA[Wonderful Life]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi seksual]]></category>
		<category><![CDATA[putri duyung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin pagi, ada pertanyaan mengejutkan dari seorang ibu yang punya anak perempuan berusia 11 tahun. Masih kelas 5 SD. Anaknya ngefans berat dengan tokoh kartun Little Mermaid, si puteri duyung cantik. Si ibu ini kebingungan waktu anaknya bertanya, “ Bunda, bagaimana ya caranya puteri duyung kawin?” Rupanya anaknya memiliki keingintahuan yang lebih dari sekedar membaca, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-180" title="300px-waterhouse_a_mermaid1" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/06/300px-waterhouse_a_mermaid1.jpg" alt="300px-waterhouse_a_mermaid1" width="209" height="298" />Kemarin pagi, ada pertanyaan mengejutkan dari seorang ibu yang punya anak perempuan berusia 11 tahun. Masih kelas 5 SD. Anaknya ngefans berat dengan tokoh kartun Little Mermaid, si puteri duyung cantik. Si ibu ini kebingungan waktu anaknya bertanya, “ <strong>Bunda, bagaimana ya caranya puteri duyung kawin?</strong>” Rupanya anaknya memiliki keingintahuan yang lebih dari sekedar membaca, menonton dan menyenangi tokoh kartun kegemarannya. Atau justru anaknya pernah melihat kartun “versi lain” yang mestinya hanya layak dilihat orang dewasa, yang banyak sekali beredar di internet.</p>
<p style="text-align: justify;">Wah, saya juga bingung ditanya seperti itu oleh ibu ini. Yang paling membingungkan saya adalah puteri duyung itu sebenarnya apaan? Itu kan cuma mahluk fantasi. Atau apa memang benar-benar ada? (Jadi seperti misteri Loch Ness saja nih). Ini dulu yang ingin saya cari tahu. Pertanyaan tadi terpaksa saya tunda menjawabnya. Soalnya akan sangat membingungkan menjawab pertanyaan tentang sesuatu yang masih belum jelas kan? Pikiran saya juga mengingat-ngingat waktu kecil dulu beberapa kali main ke Ancol, sempat melihat-lihat ikan besar yang katanya sih ikan duyung. Nah lho, jadi maksudnya yang mana?<span id="more-176"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tentang Puteri Duyung</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-182" title="dugong_dugon" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/06/dugong_dugon.jpg" alt="dugong_dugon" width="270" height="181" />Setelah tanya sana, tanya sini, browsing wikipedia dan beberapa sumber, akhirnya saya sepakat sama diri saya dulu kalau “puteri duyung” itu jelas cuma legenda. Dongeng semata. Sedangkan “ikan duyung” memang ada. Sering disebut dengan “sea cow”. Dan tentu saja puteri duyung dan ikan duyung berbeda. Ikan duyung sebenarnya bukan ikan, tetapi mamalia. Hanya saja habitatnya memang di air. Bentuknya mirip dengan lumba-lumba atau paus kecil. Lumba-lumba dan paus juga masuk kelas mamalia ya. Ikan duyung yang nama latinnya adalah Dugong dugon ini termasuk hewan pemakan alga laut langka yang perlu dilindungi.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang bikin saya tertarik sekarang malah keingintahuan tentang legenda si puteri duyung, karena kisahnya ternyata sangat populer di seluruh dunia. Tadinya saya benar-benar tidak tahu banyak soal ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignright size-full wp-image-184" title="726px-herbert_james_draper_-_ulysses_and_the_sirens_19091" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/06/726px-herbert_james_draper_-_ulysses_and_the_sirens_19091.jpg" alt="726px-herbert_james_draper_-_ulysses_and_the_sirens_19091" width="300" height="247" />Menurut legenda turun temurun, puteri duyung adalah makhluk yang hidup di air, memiliki badan dan kepala perempuan dengan ekor menyerupai ikan. Puteri duyung hidup di dasar laut. Sebagian besar legenda menyebutkan kalau dulunya puteri duyung adalah manusia. Kenapa dia berubah bisa menjadi memiliki ekor ikan, pada beberapa legenda memiliki kisah sendiri-sendiri. Dan kisah-kisah ini sudah sejak berabad-abad yang lalu ada. Dalam mitologi Yunani, puteri duyung ini jumlahnya tidak satu, tetapi banyak. Posisinya seperti kawanan bidadari kalau dibandingkan dengan kisah pewayangan. Mereka disebut para “siren”, tetapi tentunya tetap hidup di laut. Puteri-puteri duyung ini dikatakan sering menggoda para pelaut. Barang siapa lengah dan tergoda maka akan menemui nasib naas di laut.</p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat Babilonia malah pernah menyembah puteri duyung sebagai dewa laut yang dikenal sebagai Ea atau Oannes. Oannes digambarkan sebagai duyung jantan. Dari kata Oannes ini istilah Aqua dan Ocean berasal. Legenda rakyat Assyria bercerita tentang dewi Atargatis, ibu dari ratu Semiramis. Dewi Atargatis jatuh cinta pada seorang gembala, yang justru kemudian terbunuh olehnya. Karena malu, ia menceburkan diri ke danau untuk mengubah diri menjadi ikan. Namun, air danau tidak bisa mengubah dirinya sepenuhnya karena ia masih memiliki kekuatan sebagai seorang dewi. Akhirnya, hanya separuh tubuhnya yang menjadi ikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Legenda rakyat yang paling terkenal juga berasal dari Yunani. Menceritakan bahwa puteri duyung adalah metamorfosis dari “Thessalonike”, adik Alexander Agung yang berubah menjadi puteri duyung setelah meninggal. Yang membuat merinding adalah karena diyakini dia hidup kembali di laut Aegea, dan selalu menanyakan nasib kakaknya. Dia hanya menanyakan satu hal bila ada pelaut melintas. Ini selalu membuat para pelaut takut setengah mati bila mengarungi laut Aegea. Dia selalu bertanya: “Zi o basiliás Aléxandros?” (Apakah Alexander Agung masih hidup?). Jika mendengar suara seperti itu di laut, maka demi keselamatan sebaiknya dijawab; “Zi k? basileúi!” (Dia masih hidup dan masih berkuasa). Bila tidak menjawab seperti itu, maka ia berangsur-angsur berubah menjadi Gorgon dan mencelakai pelaut yang ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Wikipedia menyebutkan bahwa……”<em>kisah puteri duyung juga sangat populer di beberapa negara, seperti: “Mami Wata” dari Afrika barat dan tengah; “Russalki” (Rusalka) dari Rusia dan Ukraina; “Merrow” dari Irlandia dan Skotlandia; “Oceanid”, “Nereid”, dan “Naiad” dari Yunani, ketiganya adalah nymph air. Dalam dongeng dan cerita rakyat Eropa, ada makhluk yang wujudnya menyerupai puteri duyung disebut “Melusine”, berwujud wanita dari kepala sampai pinggang, sedangkan berwujud ikan dari pinggang ke bawah, dengan dua ekor yang bercabang atau kadang-kadang seperti ular. Di Jepang, jika manusia memakan daging puteri duyung, maka akan memperoleh keabadian. Dalam beberapa cerita rakyat di Eropa, puteri duyung dapat mengabulkan permohonan</em>”.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Puteri Duyung Saat Ini</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Penokohan puteri duyung kini semakin terkenal karena dikemas dalam bentuk imajinasi dan fantasi baru sebagai makhluk asing yang menawan untuk tujuan edukasi anak dan komersial. Putri duyung kembali dikenal sebagai mahkluk cantik dongeng The Little Mermaid (1836) karya Hans Christian Andersen. The Little Mermaid (1989) versi Walt Disney studio, yang mengadaptasi cerita Hans Christian Anderson ini cukup laris dinikmati sebagai tontonan keluarga, bercerita tentang puteri duyung yang menginginkan sepasang kaki. Film ini dibuat sekuelnya dengan judul ‘’’The Little Mermaid 2: Return to the sea’. Bahkan tokoh puteri duyung juga muncul dalam novel Peter Pan dan Harry Potter.</p>
<p style="text-align: justify;">Film box office “Splash” (1984), membawa popularitas kepada Darryl Hannah dan Tom Hanks. Hannah berperan sebagai Madison, si puteri duyung yang jatuh cinta kepada manusia. Ia dapat memiliki kaki dan berjalan di darat, namun kapanpun air menyentuh tubuhnya, ia berubah menjadi puteri duyung.<br />
Masih ingat film yang ada banyak berseliweran puteri-puteri duyung cantik di seri “Marina” yang diputar di salah satu TV swasta Indonesia beberapa tahun lalu? Film produksi 2004 ini adalah serial TV sukses dari Filipina, dibintangi oleh artis cantik Claudine Barretto. Marina adalah serial fantasi pertama dari ABS-CBN dan menjadi sangat terkenal.</p>
<p style="text-align: justify;">Kisah tentang puteri duyung juga pernah cukup populer di dunia sinetron Indonesia. Sinetron dengan pemeran utama Ayu Azhari sebagai si puteri duyung dalam sinetron “puteri Duyung”. Menurut saya sinetronnya kurang bermutu ya. Tapi itulah selera Indonesia. Sinetron ini jiplakan dari film Putri Duyung (1985) dengan bintang Eva Arnaz dan mantan suaminya Barry Prima. Yang ternyata film ini juga jiplakan dari “Splash”. Sementara dari Hong Kong, tampil Christy Chung sebagai putri duyung dalam Mermaid Got Married (1996), dengan lawan main Ekin Cheng dan Takeshi Kaneshiro.</p>
<p style="text-align: justify;">Puteri duyung juga ternyata dijadikan sebagai sebuah lambang sebuah daerah. Puteri duyung yang membawa perisai dan pedang menjadi lambang Warsawa, ibukota Polandia. Patungnya juga terdapat di sana.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Lalu, Kalau Begitu Jawaban Pertanyaan si Ibu Apa?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hmm, tetap bingung. Lha wong puteri duyung itu cuma fantasi. Dongeng. Makhluk yang nggak jelas kok. Pencarian cerita puteri duyung cuma nambah wawasan tentang legendanya saja. Tapi, kalau dipaksain juga, kalau kawinnya dipaksain dilihat berdasarkan Undang-Undang no 1 tahun 1974, ya dipaksain juga mengurus dulu si puteri duyung sebagai manusia saja. Jadi dibawa dulu ke darat, biar punya kaki, jadi manusia dulu, biar lengkap syarat administrasinya. Jadinya cerita dongengnya bisa berakhir happy ending di catatan sipil kan. Hehe.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi kalau pengertian kawin di sini maksudnya adalah aktivitas seksual? Ya tetap bisa saja. Toh aktivitas seksual tidak harus penetratif. Bisa kissing, licking, petting, sambil nungging…Walaupun kelaminnya tidak jelas ada dimana dan seperti apa, tetapi organ seksual yang lain masih bisa difungsikan. Payudara misalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi kalau pengertiannya kawin untuk bereproduksi? Ampunn…yang ini jelas saya nggak bisa jawab. Maaf ya Bu…</p>
<p style="text-align: justify;">(Dari beberapa sumber)</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Lukisan pertama adalah masterpiece dari John William Waterhouse berjudul ‘’A Mermaid’’, dilukis dari tahun 1895. Lukisan tersebut sempat hilang dan ditemukan kembali pada tahun 1970-an; Lukisan kedua adalah Ulysses and the Sirens, 1909, karya Herbert James Draper (1863-1920).</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.okanegara.com/sexuality-blitz/pertanyaan-anak-%e2%80%9cputeri-duyung-bagaimana-caranya-kawin%e2%80%9d-ini-cerita-tentang-puteri-duyung.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mr. Sometimes; Membuat Minggu Saya Jadi Ceria</title>
		<link>http://www.okanegara.com/wonderful-life/mr-sometimes-membuat-minggu-saya-jadi-ceria.html</link>
		<comments>http://www.okanegara.com/wonderful-life/mr-sometimes-membuat-minggu-saya-jadi-ceria.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 00:46:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Kamar Praktek]]></category>
		<category><![CDATA[Wonderful Life]]></category>
		<category><![CDATA[pasien]]></category>
		<category><![CDATA[praktek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini diambil dari posting tanggal 1 Juni 2008 lalu. Hari minggu pagi ini awalnya saya merasa tidak bersemangat, bahkan hari ini terasa menjemukan. Saya memilih untuk praktek karena memang ada yang janji untuk konsultasi. Sorenya saya berniat melihat relawan-relawan remaja KISARA (Kita Sayang Remaja) yang latihan bikin blog. Pada ketularan rupanya. Nah, tidak diduga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-126" title="funnyface" src="http://okanegara.com/wp-content/uploads/2009/05/funnyface.jpg" alt="funnyface" width="300" height="300" />Cerita ini diambil dari posting tanggal 1 Juni 2008 lalu. Hari minggu pagi ini awalnya saya merasa tidak bersemangat, bahkan hari ini terasa menjemukan. Saya memilih untuk praktek karena memang ada yang janji untuk konsultasi. Sorenya saya berniat melihat relawan-relawan remaja <a href="www.kisara.org">KISARA</a> (Kita Sayang Remaja) yang latihan bikin blog. Pada ketularan rupanya. Nah, tidak diduga ternyata ada yang bikin hari ini jadi penuh senyum. Iya, ada pasien yang unik juga hari ini. Saya beri nama “Mr. Sometimes” deh. Kalau membaca postingan ini pasti akan mengerti kenapa saya berikan nama seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tengah hari tadi di klinik saya kedatangan pasien, masih cukup muda, laki-laki, 28 tahun, dengan tangan kanan memegang uluhatinya. Kebetulan tadi jeda makan siang, jadi pasien masih lowong, klien yang janji konsultasi juga sudah datang lebih awal tadi, dan sudah beres. Perawat saya, Anik, mempersilakan pasien tadi masuk dan duduk. Karena memang kelihatan wajahnya sedikit meringis, saya bisa merasakan ada rasa sakit yang dia tahan. Dan selama hampir lima belas menit berjalan saya mendiagnosis rasa nyerinya itu disebabkan karena peningkatan asam lambung. Bahasa medisnya “Gastritis”. Sebuah keluhan yang banyak dialami juga oleh banyak orang. Sering disebut sakit maag. Hanya saja bukan itu yang ingin saya ceritakan di sini, tetapi beberapa rekaman dialognya. Ini yang sempat saya ingat. Ini adalah dialog setelah saya melakukan pemeriksaan fisik, saat saya menjelaskan sakitnya dan menulis resep.<span id="more-125"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Saya</strong>: Saya tanya lagi ya, apa sering nyeri uluhati seperti ini?<br />
<strong>Pasien</strong>: Nggak juga dok, kadang-kadang aja, kalau telat makan dan makan yang asem-asem.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Saya</strong>: Kalau yang sekarang ini, timbul nyerinya sepanjang hari?<br />
<strong>Pasien</strong>:  Kadang bisa paginya dok, kadang malamnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Saya</strong>: Nyeri paling hebat dirasakan sebelum makan atau sesudah makan?<br />
<strong>Pasien</strong>: Kadang bisa sebelum makan dok, kadang bisa juga setelah makan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Saya</strong>: Kalau dibawa istirahat masih nyeri juga?<br />
<strong>Pasien</strong>: Kadang-kadang dok.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Saya</strong>: Apa kira-kira ada ketegangan di pekerjaan atau dengan keluarga?<br />
<strong>Pasien</strong>: Iya dok, kadang-kadang di pekerjaan saya mengalami stress dok.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Saya</strong>: Kok bisa?<br />
<strong>Pasien</strong>: Iya dok, kadang-kadang  saya dimarahi bos kalau  paket yang diminta telat sampainya dok.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Saya</strong>: Ada masalah dengan keluarga juga?<br />
<strong>Pasien</strong>: Kadang-kadang dengan kakak ipar saya dok. Dia kadang-kadang minjam uang sama saya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Saya</strong>: Ok. Baik. Rupanya anda mengalami peningkatan asam lambung, sehingga lambung menjadi terasa penuh dan kembung. Jadinya juga nyeri. Ini saya berikan resepnya.<br />
<strong>Pasien</strong>: Terima kasih dok.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Saya</strong>: Oya, ini becanda saja ya. Boleh nggak saya memanggil anda “Mas Kadang-Kadang?” Soalnya dari tadi anda menjawabnya dengan “kadang-kadang” melulu. Gimana?<br />
<strong>Pasien</strong>: Ah, dokter bisa saja, hehe. Boleh deh..Temen-temen saya juga sering bilang gitu. Ok saya janji deh berusaha nggak bakal sering bilang seperti itu lagi. Paling tidak, nggak akan bilang gitu lagi sama dokter deh. Oya, makasih sekali lagi dokter..</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Saya</strong>: Ok, diminum obatnya dan ingat pantangan yang tadi saya bilang sebelumnya ya. Oh, ya ada yang lupa, apa anda suka minum kopi?<br />
<strong>Pasien</strong>: Kopi? Kadang-kadang dok…</p>
<p style="text-align: justify;">Anik, perawat saya pun yang minggu-minggu ini cukup tegang dengan kehamilannya, jadi tersenyum lebar. Dan hari minggu ini tidak jadi menjemukan. Sorenya pun saya bertemu dengan 15 wajah remaja ceria, yang berlatih bikin blog di Warung Kopi Cafe Renon. Hari Minggu yang menjadi ceria kembali. Terima kasih Mr.Sometimes.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.okanegara.com/wonderful-life/mr-sometimes-membuat-minggu-saya-jadi-ceria.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sundari Laksana; Potret Anak-Anak Yang Belajar Kerjasama Atas Nama Tradisi</title>
		<link>http://www.okanegara.com/wonderful-life/sundari-laksana-potret-anak-anak-yang-belajar-kerjasama-atas-nama-tradisi.html</link>
		<comments>http://www.okanegara.com/wonderful-life/sundari-laksana-potret-anak-anak-yang-belajar-kerjasama-atas-nama-tradisi.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 10:32:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>oka negara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wonderful Life]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[nyepi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://okanegara.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[Flashback article on March 9, 2008 by okanegara Ada yang menarik terlihat waktu itu di sekitar rumah saya sehari menjelang Nyepi. Saat selesai posting di blog untuk memuat puisi Hari Nyepi yang dikirim Cok Sawitri beberapa waktu lalu, sekaligus juga memuat tulisan Bapak Ketut Wiana tentang Hari Nyepi. Sekelompok anak berbaju merah, memakai udeng dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="posttitle">
<p><em>Flashback article on March 9, 2008 by <a title="Posts by okanegara" href="http://okanegara.wordpress.com/author/okanegara/">okanegara</a></em></p>
<p class="post-info">
</div>
<p><a title="low-siap-berangkat.jpg" href="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/low-siap-berangkat.jpg"><img src="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/low-siap-berangkat.jpg" alt="low-siap-berangkat.jpg" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Ada yang menarik terlihat waktu itu di sekitar rumah saya sehari menjelang Nyepi. Saat selesai posting di blog untuk memuat puisi Hari Nyepi yang dikirim Cok Sawitri beberapa waktu lalu, sekaligus juga memuat tulisan Bapak Ketut Wiana tentang Hari Nyepi. Sekelompok anak berbaju merah, memakai udeng dan kamen, asik berembug di depan sebuah ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh yang tidak terlalu besar, tampak kurus dan sama sekali tidak menyeramkan seperti ogoh-ogoh lain. Malah terlihat lucu dan imut. Semua orang di Bali pasti tahu kalau hari itu adalah hari “pengerupukan”, hari yang dikenal dengan pawai ogoh-ogohnya, hari yang sangat dinanti-nantikan, walau menurut saya mungkin tidak banyak yang mengerti makna sebenarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Om jadi ya fotoin Omang</em>” ujar Omang Yoga, yang paling kecil di antara kelompok anak ini. Dia satu-satunya yang tidak memakai udeng. Omang Yoga baru tujuh tahun, masih duduk di kelas satu, di SD Negeri 3 Panjer. Tadi memang saya mendadak dicari oleh anak-anak ini, diminta sekedar membuat foto-foto, buat dokumentasi mereka sore ini. Dan saya mengiyakan. Anak-anak ini masih belum cukup besar untuk ukuran sebuah tim pengarak ogoh-ogoh. Tetapi mereka kompak sekali. Yang paling besar paling-paling baru berumur 11 tahun. Mereka; Candra-kakak kandung Omang Yoga, Dek Pong, Dek Agus, Surya, Tu Cahya, Kuduk, Asek, Erik dan Ancis. Rata-rata bersekolah di SD Negeri 3 Panjer dan sebagian lagi di SD Negeri 6 Panjer. Mereka tinggal di seputaran Jalan Waturenggong, masih satu banjar, Banjar Kaja Desa Pakraman Panjer. “<em>Om Oka, yang bagus na?? fotonya..”</em> pinta Omang Yoga dan Dek Agus hampir berbarengan.<span id="more-202"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya Desa Pakraman Panjer tahun ini mengambil keputusan untuk meniadakan lomba dan pawai ogoh-ogoh lagi. Hal ini dikonfirmasi oleh Bapak Ketut Sukanata, SH yang sempat ditemui. Dia yang sehari-hari aktif di LSM PKBI Bali, juga menjadi Penyarikan II di Desa Pakraman Panjer. “<em>Desa Pakraman Panjer tidak lagi mengadakan lomba dan pawai ogoh-ogoh. Setelah ditelusuri di sumber-sumber sastra agama memang tidak ada pengharusan untuk membuat dan melakukan pawai ogoh-ogoh</em>” katanya. “<em>Walaupun sebenarnya belum pernah terjadi hal-hal buruk yang ekstrim akibat pawai ogoh-ogoh ini di Panjer, tetapi karena sebagian besar yang membuatnya adalah anak muda atau dewasa muda, beberapa kali menjadi lepas kendali dan lebih fokus ke persiapan pawai ogoh-ogohnya dibandingkan dengan konsentrasi ke rangkaian tradisi upacara Nyepi di desa</em>” tambahnya. Memang benar demikian adanya. Terlebih Desa Pakraman Panjer memiliki keunikan tersendiri di saat rangkaian pecaruan, yang disebut dengan ritual “meburu”, sebuah prosesi “nyomia butha kala”. Nyomia bhuta kala maksudnya adalah menenangkan butha kala dan kekuatan jahat lainnya agar tidak mengganggu prosesi menuju brata penyepian esok harinya dengan maksud agar tercipta kedamaian dan keheningan, terutama di lingkungan Desa Pakraman Panjer. Rentang wilayah spiritualnya mulai dari area Pura Bale Agung (tengah desa)-di Jalan Tukad Pakerisan, hingga Pura Tegal Penangsaran (perbatasan desa)- di wilayah barat Jalan Waturenggong. “<em>Tradisi ini penuh dengan ritual unik yang perlu dipersiapkan dengan baik, apalagi hari Sabtu setelah Nyepi adalah puncak Piodalan Pura Tegal Penangsaran</em>” tambahnya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, kelompok anak ini dengan penuh semangat sejak jauh hari sebelumnya tetap bertekad untuk membuat ogoh-ogoh dan siap mengaraknya. Mereka sudah bersemangat sejak dari merencanakan, membuat ogoh-ogoh dan sekarang sudah siap tempur untuk mengarak ogoh-ogoh bikinan mereka sendiri, tentunya di sana sini masih dibantu orang dewasa juga. Mereka telah memikirkan semua identitas mereka dalam “aksi” mereka malam itu. Mereka menyebut kelompoknya dengan nama “Sundari Laksana”, yang menurut Candra diambil dari nama kelompok mereka di kelompok gamelan anak di Banjar, karena tim ini memang punya aktivitas juga sebagai sekaa (tim) gamelan anak di Banjar Kaja. Kelompok Sundari Laksana menyeragamkan dirinya dengan dress code merah-merah. Lucunya, semua pakaian atasnya dipakai secara terbalik. Bagian dalam keluar. “<em>Merah kan berani. Terus bajunya supaya kelihatan seragam Om, biar nggak kelihatan gambar-gambar yang ada di baju</em>” ujar Dek Pong.</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="low-ogoh2-butakala-sangut-megel.jpg" href="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/low-ogoh2-butakala-sangut-megel.jpg"><img src="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/low-ogoh2-butakala-sangut-megel.thumbnail.jpg" alt="low-ogoh2-butakala-sangut-megel.jpg" align="left" /></a>Ogoh-ogoh yang mereka buat, sekali lagi, jauh dari kesan menyeramkan. Ogoh-ogoh setinggi kurang lebih dua meter itu terlihat bersih, kepala dari bahan gabus dibuat rada besar dengan wajah diwarna merah, lugu, berekspresi dingin, bermata tiga, dan menggunakan udeng batik coklat (udeng yang dipakai ternyata udeng kakeknya Omang Yoga). Badannya kurus, bertelanjang badan, hanya menggunakan kamen pendek warna tridatu. Menggunakan asesoris keemasan dari kertas prada di leher, pinggang dan gelang kain tridatu di pergelangan tangan-kaki. Semua kuku dibuat besar-besar berwarna putih bersih. Seluruh telapak tangan dan kaki diwarna merah. Itu saja. Sangat sederhana. Musik pengiringnya dipakai sebuah kentongan bambu saja. Omang Yoga nanti yang bertugas membawa kentongan ini. Tidak salah juga, karena kesederhanaan dan jauh dari kesan seram, nama yang dipilih untuk ogoh-ogohnya juga yang tidak seram. Namanya “Bhuta Kala Sangut Megel”.</p>
<p style="text-align: justify;">Coba kita dengarkan apa jawaban mereka dari pertanyaan tentang aksi mereka hari itu. Saya memulai pertanyaan dengan kenapa mereka ingin sekali membuat ogoh-ogoh. <em>“Kepingin buat sendiri, Om! Biar nggak cuma nonton saja!”</em> jawab Candra dan Dek Agus, yang dibenarkan oleh temannya yang lain. <em>“Buat ikut memeriahkan sebelum Nyepi, kan tradisi Om”</em> tambah Tu Cahya.<em> “Nggak dimarahin sama Bapak sama Ibu?”</em> saya tanya lagi. <em>“Nggak!”</em> jawab mereka kompak. <em>“ Kan kita bikinnya yang lucu, bukan yang bhuta kala biasa”</em> kata Candra. Memang mereka ini dapat dukungan dari orang tua mereka, terutama dari kakeknya Candra, Pekak Redon. Yang juga kakeknya Dek Pong, Dek Agus, Surya dan Omang Yoga. Mereka ini masih saudara sepupu. Mereka bilang pembuatan ogoh-ogoh ini dipantau oleh kakek waktu pengerjaannya. “<em>Terus, dapat duit dari mana buat bikin ogoh-ogohnya?”</em> tanya saya lagi. <em>“Minta sumbangannnn…”</em> jawab mereka kompak. <em>“Pakde Jeff  nyumbang”</em> kata Dek Agus. Pakde Jeff yang dimaksud adalah Bapak Made Suryanata, SH-Kelian Mona Banjar Kaja. “<em>Bapaknya Agus juga ngasi tiga puluh ribu</em>” kata Dek Agus lagi. “<em>Bapaknya Omang nyumbang nasi jingo sama air minum!</em>” kata Omang Yoga menambahkan. “<em>Pekak juga ngasi uang</em>” kata Dek Agus. Dek Agus lebih banyak jawab karena bisa jadi dia “bendahara” kelompok ini. “<em>Terus, bahan-bahannya nyari di mana?</em>” tanya saya. “<em>Kayu reng beli di Toko Dewi 15 ribu, kawatnya juga beli di Toko Dewi 9 ribu, cat beli di Toko Restu Alam Sanglah 10 ribu, bambunya beli di Pak Cager 18 ribu, udah itu aja Om</em>” kata Dek Agus lagi. “<em>Kertas minyak kita pada sumbangan sendiri-sendiri Om</em>” kata Tu Cahya. “<em>Memangnya cukup?</em>” saya pancing lagi. “<em>Masih kurang Om, sisanya kita semua urunan lagi dari uang sendiri-sendiri</em>” jawab Dek Agus. Luar biasa niat mereka ini, begitu yang ada di pikiran saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada juga yang membuat saya ingin tahu kenapa mereka mengambil tokoh Sangut yang kurus sebagai profil ogoh-ogohnya. Dek Pong yang menjawab “<em> Iseng awalnya Om. Milih Sangut karena lucu, terus dibikin yang kurus biar ikut prihatin, kan bangsa Indonesa sekarang sedang miskin, banyak yang kelaparan</em>”. Wah, memangnya nyambung ya. Tapi ini bisa menyentuh hati saya juga. “<em>Nah, supaya jadi lucu, gayanya Sangut dibuat berdiri ningkang, ceritanya lagi seneng karena bakal di foto”</em> kata Dek Pong dan Candra. Ada-ada saja. Rupanya Dek Pong dan Candra yang menjadi pengarah gaya untuk profil ogoh-ogohnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="low-sayasundari-laksana.jpg" href="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/low-sayasundari-laksana.jpg"><img src="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/low-sayasundari-laksana.thumbnail.jpg" alt="low-sayasundari-laksana.jpg" align="left" /></a>Sore itu mereka berkumpul dulu, semacam gladi resik untuk mempersiapkan segala sesuatunya agar tidak terburu-buru. Mereka menaruh sementara ogoh-ogohnya di depan ruko dekat pertigaan Waturenggong-Irawadi. Juga mengecek kentongan dan obor. Mencoba mengangkat bersama ogoh-ogohnya. “Test drive” ceritanya. Mereka sudah berpakaian lengkap termasuk sepatu. Dari beberapa kelompok lain yang saya tahu juga membuat ogoh-ogoh, selama saya keliling mengintip ogoh-ogoh yang diletakkan sepanjang jalan Waturenggong, rupanya Sundari Laksana yang mempersiapkan diri paling awal. “<em>Nanti Agus sama temen-temen mau pake gaya slorid Om…</em>” kata Dek Agus. Setelah beberapa kali tanya maksudnya, ternyata yang dimaksud adalah gaya “slow ride”. Walah, saya kira gaya apaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Memasuki pasca jam tujuh malam, setelah ritual “meburu”-yang dimulai dari Pura Bale Agung kemudian berakhir di Pura Tegal Penangsaran- selesai, dan juga setelah prosesi “natab” di rumah masing-masing selesai, mulailah geliat semangat itu muncul kembali. Sepanjang Jalan Waturenggong telah ramai kembali, dipenuhi dengan orang-orang yang mau menonton pawai ogoh-ogoh. Walaupun keputusan Bendesa Adat meniadakan pawai ogoh-ogoh sudah disosialisasikan jauh hari sebelumnya, tetapi terlihat belasan ogoh-ogoh sudah siap untuk diarak. Suasana berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ogoh-ogoh yang ada rata-rata berukuran lebih kecil dari ogoh-ogoh biasanya. Rupanya kali ini yang turun semuanya adalah anak-anak. Bukan orang dewasa. Jadinya ukuran ogoh-ogoh juga menyesuaikan. Sebagian besar menampilkan sosok raksasa sesuai pakem umum. Lebih banyak nuansa gelap dan hitam. Pengarak ogoh-ogoh pun sebagian besar berbaju hitam-hitam. Mereka semua mengarak ogoh-ogoh di sepanjang jalan Waturenggong saja. Tidak ada yang spesial dari pergerakan pawai ogoh-ogoh itu. Semua hampir sama dengan tradisi sebelumnya. Cuma yang unik tahun ini semua pengarak adalah anak-anak. Kalaupun ada orang tua atau orang dewasa mereka hanya menemani arakan saja. Layaknya tim pelatih dan ofisial.</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="low-aksi.jpg" href="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/low-aksi.jpg"><img src="http://okanegara.files.wordpress.com/2008/03/low-aksi.thumbnail.jpg" alt="low-aksi.jpg" align="left" /></a>Malam itu Sundari Laksana terlihat dominan, karena keputusan mereka memakai pakaian berwarna merah memang bisa terlihat menjadi nilai tambah penampilan mereka malam itu. Semua orang nampak bergembira, terkagum melihat kreativitas anak-anak dan larut dalam suasana “pengerupukan”. Malam itu semua berkeringat. Dan besok mereka semua akan beristirahat cukup lama, untuk menjalankan brata penyepian. Hampir mendekati jam sembilan malam, pawai pun usai Semua berjalan lancar di sepanjang Jalan Waturenggong. Memang sempat ada beberapa mobil pemadam kebakaran lewat (entah dimana ada kejadian kebakaran), sehingga beberapa kelompok pengarak ogoh-ogoh merubah formasi penampilannya. Malam itu Sundari Laksana tampil luar biasa. Omang Yoga terlihat paling gembira sambil memukul-mukulkan kentongannya mengikuti tema-temannya yang berkeringat sebesar biji jagung mengarak ogoh-ogoh. Inilah semangat anak-anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlepas dari alasan tradisi yang memicu anak-anak ini untuk berkreativitas. Ada yang menarik untuk direnungkan. Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu sepaham dengan adanya pembuatan dan pawai ogoh-ogoh. Karena di samping tidak jelas rujukannya, sering kali di pawai-pawai sebelumnya disertai keributan, ada minuman keras, padahal di saat pawai malam hari butha kala sudah disomia (dinetralisir). Jangan-jangan para butha kala lari ke diri para pengarak ogoh-ogoh. Memang setelah ogoh-ogoh diarak ada tahapan akhir prosesi pralina (pemusnahan), tetapi alangkah lebih baik ini ditinjau dan diatur kembali, mungkin kreativitas bisa dikembangkan lagi dengan pemilihan waktu yang tepat, bisa saja siang hari diadakan sebelum senja. Hanya saja kali ini yang benar-benar menyentuh hati saya adalah, walaupun tradisi dijadikan alasan oleh anak-anak ini (bisa jadi karena mereka belum paham maknanya), tetapi dibaliknya adalah bagaimana terdapat semangat yang luar biasa, semangat bekerjasama dan semangat untuk belajar merencanakan, mengorganisasi dan melakukan aksi bersama supaya bisa tampil menghibur masyarakat, termasuk menghibur diri mereka juga. Bagaimana mereka di saat mengalami keterbatasan yang ada, bisa juga bekerja sama dengan orang dewasa, bagaimana mereka juga belajar untuk menyumbang dan berkorban ketika dana tidak mencukupi, demi kepentingan bersama. Mudah-mudahan anak-anak ini bisa belajar bekerjasama dengan lebih baik lagi sejalan dengan pertambahan usianya. Mudah-mudahan di Nyepi ini mereka bisa belajar menjadi calon penerus yang bisa juga bahu-membahu bekerja sama dengan kelompok yang lebih besar lagi, bisa di desa, di masyarakat maupun buat bangsa ini. Dan mereka juga bisa menjadi contoh yang baik bagaimana bekerjasama.<br />
“<em>Om, udah selesai foto-fotonya?</em> Lihat Om..” pinta Omang Yoga saat ogoh-ogohnya dipralina. “<em>Capek tapi seneng Om</em>” kata Omang Yoga lagi. <em>“Selamat Nyepi ya Om..</em>” kata anak-anak ini hampir berbarengan.</p>
<p style="text-align: justify;">(okanegara, 8 maret 2008)</p>
<p style="text-align: justify;">Note:<br />
Udeng = kadang disebut destar, penutup kepala sebagai bagian busana adat Bali<br />
Kamen = kadang disebut kamben, orang Jawa mungkin menyebut kemben, adalah kain yang dipakai dari pinggang ke bawah sebagi paket busana adat Bali<br />
Ogoh-ogoh = patung semi permanen dalam ukuran besar, dari rangka kayu atau bambu ditutup dengan kertas dan kain, biasanya mengambil tokoh raksasa<br />
Bhuta kala = mahluk alam lain yang biasa disebut sebagai perlambang kekuatan negatif (jahat, tidak baik, mengganggu manusia) yang biasa divisualisasi dengan gambaran raksasa seram<br />
Pecaruan = prosesi upacara yang ditujukan buat butha kala<br />
Brata penyepian = prosesi menjalankan kewajiban rohani di saat Nyepi (tidak bepergian, tidak beraktivitas, tidak menyalakan api/lampu dan mengendalikan nafsu)<br />
Tridatu = komposisi tiga warna suci merah-hitam-putih<br />
Bendesa Adat = pemimpin tertinggi adat di desa pakraman<br />
Penyarikan = sekretaris adat<br />
Kelian Mona = pemimpin adat senior<br />
Pekak = kakek (bahasa Bali)<br />
Ningkang = posisi kaki dilebarkan atau ngangkang<br />
Pralina = peleburan, pengembalian kembali ke unsur asal</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.okanegara.com/wonderful-life/sundari-laksana-potret-anak-anak-yang-belajar-kerjasama-atas-nama-tradisi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

